Iran Bantah Serang Fasilitas Minyak Saudi dan Kedubes Asing, Sebut Operasi 'Bendera Palsu' Israel
TEHERAN, iNews.id - Iran membantah serangan terhadap misi diplomatik asing di negara-negara Teluk. Sebaliknya, Iran menuduh Israel dan Amerika Serikat (AS) di balik serangan itu untuk menyudutkan Iran.
Markas Besar Khatam Al Anbiya, perusahaan pertahanan Iran di bawah Koprs Garda Revolusi Islam (IRGC), menjelaskan serangan itu sengaja dilakukan untuk menyalahkan negaranya dalam perang yang meluas ke negara-negara Teluk tersebut.
"Israel dan Amerika Serikat, dalam upaya putus asa untuk memecah kebuntuan, berupaya menyerang misi diplomatik dan fasilitas negara-negara Muslim di Timur Tengah untuk menyalahkan Iran atas serangan-serangan ini," kata bunyi pernyataan, seperti dilaporkan stasiun televisi IRIB.
Terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmail Baghaei, mengatakan perang yang berlangsung sejak Sabtu pekan lalu itu sebenarnya bisa diakhiri jika agresor AS dan Israel dihentikan.
"Cara untuk mengakhiri perang adalah dengan menghentikan agresor. Dewan Keamanan (PBB) memiliki kewajiban, jika mau, mereka bisa menghentikannya," kata Baghaei.
Sebelumnya para pejabat Iran membantah keterlibatan militernya dalam serangan terhadap penyulingan minyak Arab Saudi Aramco di Ras Tanura.
Iran menyalahkan Israel atas dugaan "false flag operation" atau operasi bendera palsu. Serangan militer ini digelar agar tampak seolah-olah dilakukan oleh pihak lain. Tujuannya bisa untuk memicu konflik, membentuk opini publik, atau menciptakan alasan pembenaran atas tindakan tertentu.
"Iran secara terang-terangan mengumumkan akan menargetkan semua kepentingan, instalasi, dan fasilitas Amerika Serikat dan Israel di kawasan, dan telah menyerang banyak di antaranya sejauh ini. Namun sejauh ini fasilitas Aramco tidak termasuk di antara target serangan Iran," kata seorang sumber pejabat militer Iran kepada kantor berita Tasnim.










