Menteri PPPA Senang Akses Media Sosial Dibatasi, Anak-Anak Bisa Main Permainan Tradisional
JAKARTA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menyambut baik rencana pemerintah membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menekan berbagai risiko yang dihadapi anak di ruang digital.
Arifatul mengatakan, hasil analisis internal Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan tingginya angka kekerasan terhadap anak yang dipicu penggunaan gadget dan sosmed yang tidak bijak.
“Kami dari Kementerian PPPA tentu yang paling bahagia karena analisis internal yang kami lakukan menunjukkan tingginya angka kekerasan terhadap anak, salah satu penyebabnya adalah penggunaan gadget atau media sosial yang tidak bijak,” ujar Arifatul dalam Rapat Koordinasi Tindak Lanjut PP No. 17 Tahun 2025.
Perlindungan Anak di Ruang Digital
Ammar Zoni Kenakan Ban Merah Muda di Lengan dalam Sidang Kasus Narkoba: Ini Simbol Perlawanan!
Arifatul menegaskan kebijakan pembatasan usia media sosial ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2024. Ia menyebut aturan tersebut juga sejalan dengan implementasi program PP Tunas yang fokus pada perlindungan anak di ruang digital.
Menurutnya, berbagai kebijakan itu harus diiringi langkah konkret untuk memperkuat pola pengasuhan anak, terutama di tingkat keluarga dan masyarakat. Kementerian PPPA juga mendorong program Ruang Bersama Indonesia yang berbasis desa sebagai pendamping.
Di mana program ini akan melibatkan perempuan di tingkat desa, organisasi PKK, serta berbagai lembaga masyarakat untuk memperkuat pola asuh anak. Selain itu, kementerian juga mengaktifkan Forum Anak Nasional hingga tingkat desa agar anak-anak dapat berperan sebagai pelopor dan pelapor jika menemukan kekerasan atau risiko di lingkungan mereka.
“Anak-anak tidak bisa hanya dilarang, tetapi harus diberi solusi. Kalau tidak boleh main gadget, lalu apa yang harus dilakukan,” kata Arifatul.
Sebagai alternatif aktivitas bagi anak, Arifatul mendorong permainan tradisional untuk anak. Menurutnya, permainan tradisional memiliki nilai filosofi yang kuat dalam membentuk karakter anak.
“Dalam permainan tradisional tidak ada yang bermain sendiri. Minimal berdua sampai sepuluh orang. Di situ anak belajar antre, menghargai, tidak curang, dan tanpa disadari nilai-nilai Pancasila juga tertanam,” ujarnya.









