Jerome Powell Akan Pimpin Pertemuan Suku Bunga Terakhir Sebagai Ketua The Fed
IDXChannel - Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell dijadwalkan memimpin pertemuan kebijakan terakhirnya pekan ini.
Dilansir dari Anadolu pada Selasa (28/4/2026), Powell akan mengakhiri masa jabatannya selama delapan tahun pada 15 Mei.
Powell dijadwalkan memimpin pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed pada Selasa dan Rabu. Pertemuan selanjutnya akan digelar pada 16-17 Juni.
Calon penggantinya, Kevin Warsh, masih menunggu pengesahan dari Senat Amerika Serikat (AS). Meski masa jabatannya sebagai ketua segera habis, Powell akan tetap menjadi anggota Dewan Gubernur The Fed selama dua tahun ke depan.
Powell berpotensi melebihi masa jabatannya sebagai ketua jika pengesahan Warsh oleh Senat tertunda. Dia menyatakan kesediannya untuk memimpin bank sentral secara sementara hingga Warsh dikonfirmasi.
Presiden Donald Trump menunjuk Powell pada 2018 dan mantan Presiden Joe Biden mencalonkannya kembali pada 2022.
Mantan bankir investasi berusia 73 tahun ini adalah satu-satunya ketua The Fed dalam hampir 40 tahun yang tidak mempunyai gelar ekonomi. Dia memiliki latar belakang politik dan hukum.
Sepanjang masa jabatan kedua Trump, Powell mengalami tekanan besar dari Gedung Putih. Dia didorong untuk memangkas suku bunga lebih cepat.
Trump berulang kali mengecam dan mengancam akan memecatnya. Powell juga sempat menghadapi penyelidikan pidana dari Kantor Kejaksaan AS.
Selama delapan tahun kepemimpinannya, The Fed menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pandemi, lonjakan inflasi, demam teknologi kecerdasan buatan, serta sejumlah perang.
Ketika Powell mulai memimpin The Fed pada Februari 2018, inflasi AS berada di angka 2,3 persen dan suku bunga kebijakan berada di kisaran 1,25-1,5 persen
The Fed kemudian memangkas suku bunga hingga mendekati nol pada Maret 2020, sambil melakukan pembelian aset skala besar untuk menyuntikkan triliunan dolar ke pasar.
Namun, kebijakan ekspansif ini, serta masalah rantai pasokan pasca-pandemi dan perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada Februari 2022, menyebabkan inflasi mencapai level tertinggi dalam 41 tahun terakhir, yaitu 9,0 persen pada pertengahan 2022 dibandingkan dengan 0,2 persen pada Mei 2020.
The Fed kemudian melakukan 11 kenaikan suku bunga dan mendorong suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam 22 tahun terakhir, yaitu 5,25-5,5 persen, untuk menekan kenaikan harga yang tak terkendali.
Suku bunga acuan Fed berada di kisaran 3,5-3,74 persen, dan inflasi berkisar di 3,3 persen pada Maret 2026, sementara tingkat pengangguran AS berada di 4,3 persen di tengah tekanan baru akibat tarif besar-besaran Trump dan guncangan energi akibat perang di Timur Tengah. (Wahyu Dwi Anggoro)










