7 Rekomendasi Fahira Idris untuk Transformasi Posyandu
Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyampaikan tujuh rekomendasi untuk transformasi Posyandu agar perannya semakin kuat sebagai fondasi layanan kesehatan primer. Menurut Senator Jakarta ini, di tengah tantangan stunting, meningkatnya penyakit tidak menular, persoalan kesehatan ibu-anak, kesehatan jiwa, hingga penuaan penduduk, Posyandu justru semakin strategis karena menjadi simpul layanan yang paling dekat dengan masyarakat.
Hal ini disampaikan Fahira Idris dalam peringatan Hari Posyandu Nasional 2026 yang mengusung fokus pada penguatan transformasi pelayanan Posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dasar sekaligus pemberdayaan masyarakat. “Kalau ingin transformasi kesehatan primer berhasil, maka Posyandu harus diperkuat. Karena di situlah titik temu negara dan warga dalam upaya promotif, preventif, deteksi dini, dan pemberdayaan yang paling nyata,” ujar Fahira Idris di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (29/4).
Aktivis perempuan dan perlindungan anak ini menilai Posyandu hari ini tidak lagi cukup dipahami hanya sebagai tempat timbang balita dan layanan ibu-anak, tetapi harus diposisikan sebagai pusat layanan berbasis siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, remaja, usia produktif, hingga lansia. Untuk itu, Fahira Idris menyampaikan tujuh rekomendasi transformasi Posyandu.
Baca juga: Momen Hangat Prabowo Nyanyi Lagu Nasional Bareng Siswa SMAN 1 Cilacap
Pertama, memperkuat transformasi Posyandu berbasis enam Standar Pelayanan Minimal secara substantif, bukan administratif. Menurut Fahira Idris, perlu dipastikan perluasan fungsi Posyandu benar-benar terimplementasi sebagai pusat layanan dasar yang terintegrasi—mulai kesehatan, edukasi keluarga, perlindungan sosial, hingga penguatan ketahanan masyarakat di tingkat komunitas.Kedua, meningkatkan kapasitas sekaligus kesejahteraan kader Posyandu sebagai ujung tombak transformasi. Fahira Idris menekankan kader perlu diperkuat melalui pelatihan berkelanjutan, dukungan teknologi, insentif yang lebih layak, dan afirmasi kebijakan karena beban tugas kader semakin kompleks dan strategis. “Transformasi tidak akan berjalan tanpa kader yang kuat. Kader adalah tulang punggung Posyandu,” tegas Fahira Idris.
Ketiga, mendorong Posyandu berbasis data dan digitalisasi layanan. Fahira Idris mendorong penguatan sistem digital untuk pencatatan tumbuh kembang, skrining risiko kesehatan, pemantauan gizi, hingga dashboard wilayah berbasis data agar intervensi lebih presisi, cepat, dan terukur.
Keempat, memperluas fungsi Posyandu sebagai pusat pencegahan dan deteksi dini persoalan kesehatan masyarakat. Posyandu harus semakin aktif dalam skrining hipertensi, diabetes, pencegahan stunting, edukasi gizi, kesehatan jiwa, hingga promosi gaya hidup sehat, sehingga tidak hanya berorientasi kuratif tetapi benar-benar menekan faktor risiko sejak awal.
Kelima, memperkuat integrasi Posyandu dengan Puskesmas, sekolah, pemerintah daerah, dan program lintas sektor. Transformasi Posyandu, lanjut Fahira Idris membutuhkan ekosistem kolaboratif agar pembinaan, rujukan layanan, logistik, dan tindak lanjut intervensi berjalan solid, bukan bekerja sendiri-sendiri.
Keenam, mendorong inovasi Posyandu yang adaptif sesuai kebutuhan lokal. Fahira Idris mendorong pengembangan model-model inovatif seperti Posyandu remaja, Posyandu lansia, Posyandu jiwa, hingga Posyandu berbasis ketahanan keluarga yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. “Posyandu harus hidup dan adaptif. Tidak bisa seragam untuk semua daerah,” ujar Fahira Idris.
Ketujuh, memastikan keberlanjutan pembiayaan dan menjadikan Posyandu sebagai investasi pembangunan manusia. Bagi Fahira Idris, penguatan Posyandu perlu didukung pendanaan berkelanjutan melalui APBD, dana desa, CSR, dan kemitraan multipihak, karena Posyandu bukan sekadar program kesehatan, tetapi fondasi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Jika tujuh rekomendasi ini dijalankan serius, Fahira Idris yakin, Posyandu dapat menjadi kekuatan strategis dalam menopang agenda Indonesia Emas 2045. “Transformasi Posyandu sejatinya bukan sekadar memperbaiki layanan dasar, tetapi membangun ketahanan masyarakat dari tingkat paling bawah. Karena kesehatan bangsa yang kuat selalu dimulai dari komunitas yang kuat,” pungkasnya.










