Trump Kecam Netanyahu: Dia Seharusnya Berterima Kasih!

Trump Kecam Netanyahu: Dia Seharusnya Berterima Kasih!

Berita Utama | inews | Selasa, 16 Juni 2026 - 07:00
share

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait serangan militer Israel ke Lebanon yang terjadi saat gencatan senjata masih berlangsung. Trump menegaskan Netanyahu seharusnya berterima kasih kepada AS atas upayanya mencapai kesepakatan damai dengan Iran.

“Dia (Netanyahu) orang yang sangat sulit,” kata Trump dalam wawancara dengan surat kabar The New York Times (NYT), dikutip Selasa (16/6/2026).

“Jujur saja, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena melakukan ini," ujarnya, menegaskan.

Trump bahkan mengatakan, jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama 24 jam.

Dia menyampaikan pernyataan tersebut setelah Israel membombardir Ibu Kota Beirut, Lebanon, pada Minggu pagi. Serangan itu menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 15 lainnya meski gencatan senjata masih berlaku.

Menurut Trump, serangan Israel ke Lebanon seharusnya tidak terjadi karena berpotensi mengganggu proses perdamaian yang sedang dibangun antara AS dan Iran. Dia juga mengungkapkan kesepakatan damai awal dengan Iran berhasil dicapai meski Netanyahu keberatan.

Kesepakatan damai tersebut akan dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni 2026 di Jenewa, Swiss. Namun, beberapa isu krusial, termasuk program nuklir Iran, belum dimasukkan dalam MoU dan akan dibahas dalam negosiasi lanjutan.

Dalam wawancara yang sama, Trump kembali mengancam akan menyerang Iran jika Teheran menolak mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. AS dan Iran dijadwalkan melanjutkan perundingan mengenai program rudal dan nuklir selama 60 hari setelah penandatanganan MoU.

Trump menegaskan, jika Iran tidak bersedia mencapai kesepakatan nuklir dengan AS, dia tidak akan ragu memerintahkan dimulainya kembali operasi militer terhadap negara tersebut.

Selain itu, Trump menyebut AS sebagai "penjaga Timur Tengah" dan mengatakan Washington berhak memperoleh imbalan berupa 20 persen dari pendapatan kawasan tersebut.

Topik Menarik