Karhutla Picu 13.449 Kasus ISPA, Kemenkes Kerahkan Ratusan Tenaga Kesehatan

Karhutla Picu 13.449 Kasus ISPA, Kemenkes Kerahkan Ratusan Tenaga Kesehatan

Berita Utama | sindonews | Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:59
share

Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia telah memicu 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 27 Agustus 2026. Untuk memperkuat penanganan kesehatan di daerah terdampak, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memobilisasi 848 tenaga kesehatan di tujuh provinsi yang terdampak karhutla.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat.

"Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap," ujar Dante, dikutip Sabtu (29/8/2026).

Baca Juga: Kemenkes: Penyakit ISPA di Wilayah Karhutla Melonjak, 314 Nakes Dikerahkan

Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, karhutla berdampak pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Total penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang.Dari jumlah tersebut, tercatat 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap dan dua orang mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan. Hingga laporan diperbarui, tidak tercatat korban meninggal dunia maupun pengungsi akibat Karhutla.

Kemenkes mencatat gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah ISPA. Pada 27 Agustus 2026 terdapat 4.082 kasus ISPA, dengan total kumulatif mencapai 13.449 kasus yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.

Dia menjelaskan, asap karhutla dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga iritasi mata dan kulit. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.

"Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan."

Selain dampak kesehatan, kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak juga berada pada level mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat nilai ISPU 328 atau kategori berbahaya.Sementara itu, Kabupaten Tebo di Jambi memiliki nilai ISPU 287, Barito Selatan di Kalimantan Tengah 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali di Sumatera Selatan 255. Seluruh wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.

Untuk mendukung penanganan di lapangan, tenaga kesehatan yang dimobilisasi terdiri atas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, hingga tenaga pendukung lainnya.

Dukungan logistik kesehatan juga terus diperkuat. Pemerintah daerah telah mendistribusikan 394.385 masker, 56 unit oksigen konsentrator, 1.000 pasang handscoon, 103 tabung Oxycan, 40 dus PMT, 36 face shield, dan delapan APD.

"Sementara itu, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang handscoon, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah terdampak," jelas Dante.

Kemenkes juga memastikan kesiapan layanan kesehatan melalui 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas). Selain itu, Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota juga disiagakan.Di Provinsi Riau, dampak kesehatan akibat karhutla telah meluas ke 12 kabupaten/kota. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Riau, hingga 27 Agustus 2026 tercatat sekitar 3.293 kasus ISPA. Kota Pekanbaru menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sekitar 900 kasus, disusul Kabupaten Pelalawan sekitar 600 kasus dan Kabupaten Kampar.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan seluruh fasilitas kesehatan terus diperkuat untuk melayani masyarakat terdampak. Dinkes Riau juga telah mengaktifkan Emergency Medical Team (EMT) di 244 puskesmas serta menyiagakan dukungan oksigen di wilayah terdampak.

"Untuk tindakan preventif, kami sudah membagikan sekitar 69.000 masker di 12 kabupaten/kota, khususnya di Pelalawan kami sudah dropping 28.000 masker. Kami juga memberikan dukungan makanan tambahan bagi kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, dan balita. Kami mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk meminimalkan aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker apabila harus keluar," ujar Zulkifli.

Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar, serta segera mengakses fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata. Pemerintah juga akan terus melakukan pemantauan kualitas udara, surveilans penyakit, penguatan layanan kesehatan, serta memastikan ketersediaan obat-obatan, oksigen, masker, dan logistik kesehatan di wilayah terdampak.

Topik Menarik