Donald Trump Resmi Ganti Istilah AI Jadi Super Intelligence

Donald Trump Resmi Ganti Istilah AI Jadi Super Intelligence

Berita Utama | inews | Kamis, 24 September 2026 - 17:49
share

JAKARTA, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan perubahan penyebutan artificial intelligence (AI) menjadi super intelligence dalam dokumen pemerintah AS. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (22/9/2026).

Donald Trump mengatakan istilah artificial atau buatan membuat teknologi tersebut seolah-olah tidak nyata. Menurut dia, istilah 'super intelligence' dinilai lebih sesuai untuk menggambarkan kemampuan teknologi yang berkembang pesat.

"Dari titik ini ke depan, seluruh dokumen Amerika Serikat, dan mudah-mudahan dokumen dunia, akan diubah menggunakan istilah yang jauh lebih akurat, yaitu ‘super’ dibandingkan ‘artificial’. Jadi, super intelligence," kata Trump dalam pidatonya di PBB, seperti dilaporkan Reuters, dikutip Kamis (24/9/2026).

Trump juga menyebut perkembangan teknologi tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Dia menegaskan tidak ingin pemerintah AS menghambat perkembangan AI melalui regulasi yang dinilai dapat memperlambat pertumbuhan industri.

Trump bahkan menyatakan teknologi tersebut berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan Revolusi Industri.

"Saya tidak akan menghambat pertumbuhan sesuatu yang akan lebih besar daripada Revolusi Industri," ujar Trump.

Departemen Luar Negeri AS Mulai Gunakan Istilah SI

Pernyataan Trump tersebut kemudian diikuti langkah di lingkungan pemerintah AS.

Biro Urusan Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri AS menginstruksikan para diplomatnya untuk mengganti seluruh penyebutan Artificial Intelligence menjadi Super Intelligence dalam dokumen, posisi resmi, pernyataan, maupun materi pers.

Istilah baru tersebut akan disingkat menjadi SI.

Instruksi itu disampaikan melalui email internal yang dikirim Michael Drager, Wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk Biro Urusan Organisasi Internasional. Email tersebut berjudul 'Change in Nomenclature AI to SI' dan diperoleh Associated Press.

Biro tersebut bertanggung jawab terhadap misi diplomatik AS pada berbagai badan PBB dan organisasi multilateral di dunia.

Belum diketahui apakah instruksi serupa akan diterapkan oleh seluruh biro di Departemen Luar Negeri maupun lembaga pemerintah AS lainnya.

Namun, penggunaan istilah baru itu sudah terlihat dalam forum PBB. Perwakilan AS menggunakan istilah SI dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai perkembangan teknologi tersebut pada Rabu (23/9/2026).

Apa Bedanya AI dan Super Intelligence?

Meski Trump menggunakan istilah super intelligence sebagai pengganti AI, keduanya sebenarnya memiliki makna yang berbeda dalam diskursus teknologi.

Artificial intelligence (AI) merupakan istilah luas untuk teknologi komputer yang dirancang menjalankan tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan kognitif manusia. Teknologi AI yang digunakan saat ini mencakup berbagai sistem dengan kemampuan dan tujuan yang berbeda.

Sementara itu, super intelligence biasanya digunakan dalam literatur AI untuk menggambarkan konsep kecerdasan yang secara hipotetis melampaui kemampuan manusia dalam hampir seluruh bidang yang relevan.

Konsep tersebut kerap dikaitkan dengan pemikiran filsuf Nick Bostrom dan masih merupakan gambaran mengenai sistem AI yang jauh lebih maju daripada kemampuan teknologi yang tersedia saat ini.

Dengan demikian, penggunaan istilah super intelligence oleh Trump tidak sekadar mengganti singkatan AI menjadi SI dalam konteks teknis. Dalam dunia teknologi, super intelligence memiliki pengertian yang lebih spesifik dan biasanya merujuk pada tingkat kecerdasan yang jauh melampaui manusia.

Trump Ingin AS Unggul dalam Perlombaan AI

Perubahan istilah tersebut muncul ketika AS dan sejumlah negara lain terus berlomba mengembangkan teknologi AI.

Trump mengatakan AS saat ini berada di depan China dalam pengembangan teknologi tersebut. Dia juga menolak upaya yang menurutnya dapat menghambat pertumbuhan industri melalui pengawasan atau regulasi yang lebih ketat.

Di sisi lain, perkembangan AI juga memunculkan kekhawatiran dari sejumlah tokoh industri dan peneliti mengenai risiko teknologi yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengendalikannya.

Trump menilai sebagian kekhawatiran mengenai bahaya AI tersebut berlebihan dan menyebut peringatan mengenai risiko teknologi itu sebagai hoax. Pemerintah AS, kata dia, tetap akan memantau perkembangan industri tersebut melalui Departemen Kehakiman jika diperlukan.

Dengan keputusan tersebut, Trump tidak hanya memperkenalkan istilah baru dalam pidatonya di PBB. Pemerintah AS juga mulai memasukkan istilah Super Intelligence (SI) ke dalam komunikasi diplomatik resminya, meski belum jelas sejauh mana istilah tersebut akan menggantikan Artificial Intelligence di seluruh lembaga pemerintah dan industri teknologi AS.

Topik Menarik