Elektrifikasi Jadi Kunci Ketahanan Energi RI
JAKARTA — Indonesia sangat rentan terdampak langsung gejolak geopolitik, di mana perang antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran masih terjadi hari ini. Dampak langsung sangat terasa karena, Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dan kini pasokannya terhambat karena tidak bisa keluar dari Selat Hormuz.
Oleh karena itu, Pengamat Energi Komaidi Notonegoro menilai, ketahanan energi nasional harus segera diperkuat di tengah ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik Timur Tengah. Salah satu cara yang bisa segera dilakukan adalah elektrifikasi di sektor rumah tangga dan transportasi.
"Ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM), yang dalam bauran energi nasional masih mencapai sekitar 30, sehingga sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga internasional,” katanya, Senin (30/3/2026).
Jadi, lanjutnya, di tengah situasi saat ini, kompor listrik bisa menjadi salah satu alternatif utama karena listrik tidak harus bergantung pada minyak dan gas.
“Kita masih memiliki sumber energi lain, termasuk batu bara yang dalam bauran energi nasional, dan ketersediaannya relatif lebih besar di dalam negeri,” ujar Komaidi.
Menurut Komaidi, keunggulan kompor listrik terletak pada fleksibilitas sumber energinya. Listrik dapat diproduksi dari berbagai sumber energi domestik seperti batu bara, gas, air, dan panas bumi.
Selain sektor rumah tangga, Komaidi menilai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) juga berperan penting dalam menekan konsumsi BBM nasional. Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 532 juta barel per tahun, dengan sektor transportasi menyumbang sekitar 52 dari total konsumsi tersebut.
“Kendaraan listrik dapat membantu mengurangi ketergantungan pada BBM impor. Dalam jangka panjang, ini juga dapat meningkatkan ketahanan energi sekaligus menekan beban subsidi energi,” jelasnya.
Komaidi juga mengapresiasi berbagai insentif yang telah diberikan pemerintah untuk mendorong percepatan elektrifikasi, mulai dari pembebasan pajak, subsidi pembelian, hingga kebijakan bebas ganjil-genap di sejumlah wilayah.
“Dengan sosialisasi yang lebih masif dan dukungan kebijakan yang konsisten, kompor listrik dan kendaraan listrik berpotensi menjadi bagian penting dalam strategi memperkuat ketahanan energi nasional,” pungkasnya.










