Heboh Harga Plastik Naik Imbas Perang AS-Israel vs Iran

Heboh Harga Plastik Naik Imbas Perang AS-Israel vs Iran

Ekonomi | okezone | Minggu, 5 April 2026 - 08:03
share

JAKARTA - Harga plastik naik di Indonesia naik. Kenaikan harga plastik disebabkan harga bahan baku plastik, yaitu nafta, senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi, naik hampir 45 dalam satu bulan terakhir. Kenaikan harga ini disebabkan konflik Timur Tengah imbas perang AS-Israel vs Iran.

Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50. Di sisi lain, perusahaan yang bergerak dalam rantai industri petrokimia dan plastik mengatakan sedang dalam mode bertahan.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan pemerintah tengah mencari sumber alternatif untuk bahan baku plastik mengantisipasi gangguan impor dari negara-negara di Timur Tengah. Mendag menyampaikan kondisi Timur Tengah mengakibatkan adanya dampak terkait aktivitas impor nafta yang digunakan untuk memproduksi plastik.

"Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku, yang kita impor dari Timur Tengah. Apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti, atau alternatif dari negara lain," kata Mendag Budi di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Rabu 1 April 2026.

Mendag merujuk kepada nafta yaitu senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama memproduksi plastik resin, karet, dan pelarut.

Dia menyebut sudah dilakukan pendekatan dengar beberapa negara termasuk India serta sejumlah pihak lain di Afrika dan Amerika.

"Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain. Jadi kita harapan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal," tambahnya.

 

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah melakukan pembicaraan dengan asosiasi dan pelaku industri untuk mencarikan alternatif lain selain Timur Tengah. Kemendag juga terus berkomunikasi dengan perwakilan Pemerintah Indonesia di luar negeri untuk membantu mencari pemasok baru untuk memastikan pasokan bahan baku plastik tetap lancar.

Dia menyoroti bahwa kondisi serupa tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di sejumlah lain termasuk Singapura, China, Korea Selatan, Thailand dan Taiwan.

"Tapi kita untuk bahan baku terus kita lakukan sehingga produksi di dalam negeri tetap normal kembali dan pasokan plastik tetap dijaga dengan baik," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam, menekankan kelangkaan bahan baku plastik untuk sektor strategis seperti industri makanan dan minuman hingga otomotif dirasakan betul, sehingga berdampak pada tingkat supply yang tidak seimbang dengan tingkat permintaan.

"Kami berharap jangan sampai ada bottlenecking terhadap bahan baku dan lain sebagainya. Kami mengimbau kepada pemerintah untuk diberi relaksasi untuk bahan baku terutama yang import. Jadi saya berharap bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini jangan sampai mengganggu produksi," kata Bob kepada awak media, dikutip Jumat (3/4/2026).

Bob mewanti-wanti risiko inflasi harga atas barang dan jasa yang dihasilkan dunia usaha, jika tingkat produksi menurun akibat kelangkaan bahan baku. Meski begitu, dunia usaha untuk saat ini masih menempatkan kenaikan harga sebagai pilihan terakhir. 

"Biasanya kalau otomotif, kami justru mempertahankan (harga)," ujarnya.

Kalangan pengusaha, kata Bob, kini sedang mengupayakan inovasi dalam hal produksi. Diversifikasi digadang-gadang menjadi satu di antara opsi untuk menyiasati kelangkaan bahan baku. 

"Kami sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kami hadapi," ucap dia.

Sebelumnya, sejumlah negara melaporkan mengamankan bahan baku plastik nafta. Termasuk Korea Selatan yang melarang ekspor nafta berlaku mulai Jumat (27/3) sebagai bagian dari upaya untuk mengamankan pasokan dalam negeri di tengah kekhawatiran akan potensi gangguan impor.

Topik Menarik