Harga Plastik Naik Dampak Perang, Produsen Putar Otak

Harga Plastik Naik Dampak Perang, Produsen Putar Otak

Ekonomi | okezone | Minggu, 5 April 2026 - 15:30
share

JAKARTA - Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengupayakan inovasi dalam proses produksi plastik, menyusul kesulitan bahan baku plastik berupa nafta yang membuat harga plastik naik. Inovasi mesti dilakoni para produsen demi menyiasati tingkat produksi yang terhambat rantai pasok akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Sekjen Inaplas Fajar Budiono menekankan inovasi perlu diterapkan di sektor hulu dan hilir industri plastik. Sebab pasokan bahan baku plastik tersendat lantaran kebanyakan pasokan berasal dari negara kawasan Timur Tengah, yang sampai saat ini beririsan langsung dengan perang.

Fajar mengatakan bahwa produsen bisa menaikkan kandungan daur ulang dengan material virgin sebagai upaya inovasi produksi. Pencampuran material ini digadang-gadang bisa menurunkan biaya produksi, selain sebagai alternatif pembuatan plastik.

"Kemudian yang kedua juga harus mencari alternatif-alternatif substitusi plastik itu sendiri, entah plastiknya diganti atau plastiknya dicampur dengan material lain," kata Fajar kepada Okezone, Jakarta, Minggu (5/4/2026).

"Contoh, kalau untuk di barang-barang peralatan rumah tangga atau karung, itu kan bisa campurkan filler, filler itu bahan campuran, bisa berupa kapur, talek, silika dan lain-lain, nah itu bisa dinaikkan campurannya itu sehingga bisa menurunkan cost tanpa mengurangi fungsi yang dibutuhkan untuk si barang jadi plastik tersebut," tambahnya.

Tak hanya itu, penyesuaian dalam produksi turut menyasar sisi ukuran plastik yang diproduksi. Kata Fajar, penyesuaian ini bisa memimalisir beban produksi dibanding waktu reguler.

"Produsen harus bisa berinovasi menurunkan ukurannya, baik itu dari sisi berat, ketebalan atau ukuran panjang lebarnya. Sehingga dari sisi harga per pieces produknya jadi turun tanpa mengurangi fungsi dari kemasan itu sendiri" kata dia.

 

Dia mencontohkan semisal kemasan keripik yang setebal 100 mikron dengan masa barang selama 6 bulan dapat ditekan ketebalannya menjadi 80 mikron. "Artinya kan turun 20 persen, tapi lifetime-nya hanya sedikit aja berkurang bisa mungkin 5 bulanan, jadi ya gitu-gitu lah yang harus dilakukan sehingga tetap apa itu kebutuhan terpenuhi dengan minimum physical properties yang yang bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang," ujar Fajar.

Adapun di sisi hulu, Fajar menitikberatkan produsen selain mencari alternatif pasokan bahan baku, pelaku usaha juga harus meremajakan teknologi-teknologi produksinya, sehingga bisa menggunakan bahan baku selain nafta.

"Bisa menggunakan kondensat, bisa juga menggunakan LPG atau Propana. Nah, Kondensat itu sendiri sebenarnya di dalam negeri ada, cuma nanti kita harus duduk bareng lagi, kondensatnya itu ada di mana, jumlahnya berapa dan kapan bisa digunakan," katanya.

Atas dasar itu, Fajar mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan LPG sebagai bahan baku alternatif pembuatan plastik. Dengan demikian, perlu ada penyesuaian kebijakan pula dari sisi pemerintah.

"LPG ini masih terkendala di bea masuk, karena apa? Karena LPG selama ini kan hanya digunakan sebagai energi. Padahal LPG bisa digunakan sebagai bahan baku alternatif. Nah kita mohon kepada pemerintah agar dikaji ulang bagaimana LPG atau Propan ini bisa dipindahkan sebagai alternatif sumber bahan baku di industri petrokimia," ujar Fajar.

 

Inovasi di sektor hulu dan hilir industri plastik ditekankan Fajar bakal berkorelasi dengan suplai di level pedagang seperti di pasar tradisional maupun pertokoan yang termasuk usaha mikro dan kecil.

Produsen tidak menafikan adanya kenaikan harga di pasaran selepas hari raya Idulfitri dalam kisaran yang tidak sedikit. "Yang jelas memang nanti harga akan ada di keseimbangan baru, enggak mungkin harga kembali lagi seperti sebelum krisis perang ini," kata Fajar.

Sekadar informasi, harga plastik naik di Indonesia naik. Kenaikan harga plastik disebabkan harga bahan baku plastik, yaitu nafta, senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi, naik hampir 45 dalam satu bulan terakhir. Kenaikan harga ini disebabkan konflik Timur Tengah imbas perang AS-Israel vs Iran.

Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50. Di sisi lain, perusahaan yang bergerak dalam rantai industri petrokimia dan plastik mengatakan sedang dalam mode bertahan

Topik Menarik