Industri Tekstil Kena Efek Perang, Harga Bahan Baku Melonjak 40
Industri tekstil dan produk tekstil kian tertekan harga bahan baku akibat konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia sepanjang perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Dampaknya terjadi pula inflasi harga bahan baku produk tekstil untuk sektor hulu.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menerangkan bahwa harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada di level USD1.300 per ton atau naik sekitar 40 sejak dua minggu yang lalu.
Meski begitu, dia menjelaskan soal kenaikan harga ini belum sepenuhnya sampai ke industri hilir. Efek berantai yang disebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil ini akan berimbas secara bertahap hingga tiga pekan ke depan.
Baca Juga: Industri Tekstil Kurang Happy dengan Tarif Ekspor 0 ke AS, Ini Alasannya“Dalam 1 minggu ke depan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi” ujar Redma, Selasa (7/4/2026).
Redma juga menambahkan, bahwa sektor retail juga akan terdapat penyesuaian harga. Kenaikan harga barang jadi retail bisa sampai dengan 10.Dari sisi permintaan pasar, APSyFI melihat masih dalam level yang stabil dengan kecenderungan permintaan meningkat karena kenaikan harga bahan baku impor juga jadi lebih tinggi dari produk lokal. “Hingga saat ini bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri belum ada kendala, barangnya ada, hanya harganya yang tinggi,” jelasnya.
Baca Juga: Mau Bikin BUMN Tekstil Baru, Pemerintah Siapkan Dana Rp101 Triliun
Kendati demikian, Redma menekankan secara keseluruhan tingkat utilisasi nasional produsen polyester masih dibawah 40 persen dan utilisasi produsen rayon sekitar 70. “Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik,” terang Redma.
Sehingga saat ini para produsen yang masih beroperasi hanya dapat melayani konsumen eksisting. Sedangkan mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan.










