Danantara Raup Rp26,8 Triliun dari Obligasi Dolar Perdana, Diborong AS
JAKARTA - Investor Amerika Serikat (AS) menjadi pembeli terbesar dalam penerbitan obligasi global berdenominasi dolar AS perdana Danantara Investment Management (DIM) senilai USD1,5 miliar atau setara Rp26,8 triliun (kurs Rp17.906 per USD).
Pada seri obligasi tenor 10 tahun, investor asal Negeri Paman Sam menyerap hingga 52 persen dari total alokasi, sementara pada tenor lima tahun porsinya mencapai 38 persen.
Berdasarkan factsheet penerbitan obligasi global Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (12/6/2026), alokasi investor untuk seri 10 tahun didominasi oleh investor Amerika Serikat sebesar 52 persen, disusul investor dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) sebesar 31 persen, serta Asia 17 persen.
Sementara untuk seri lima tahun, investor EMEA menjadi pembeli terbesar dengan porsi 41 persen, diikuti Amerika Serikat 38 persen dan Asia 21 persen.
Tingginya minat investor Amerika Serikat menunjukkan kuatnya kepercayaan pasar keuangan global terhadap prospek Danantara sebagai sovereign-linked investment vehicle Indonesia yang baru dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025.
Secara keseluruhan, penerbitan obligasi global perdana Danantara melalui Danantara Investment Management memperoleh permintaan yang sangat besar.
Nilai peak orderbook tercatat mencapai sekitar USD4,6 miliar atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan nilai penerbitan sebesar USD1,5 miliar.
Minat tersebut datang dari investor institusi yang berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.
Danantara menerbitkan dua seri obligasi masing-masing senilai USD750 juta. Seri pertama bertenor lima tahun dengan tingkat imbal hasil 5,35 persen, sedangkan seri kedua bertenor 10 tahun menawarkan yield 5,95 persen.
Tidak hanya dari sisi geografis, komposisi investor juga didominasi oleh investor institusional jangka panjang.
Pada obligasi tenor lima tahun, sebanyak 82 persen alokasi diserap oleh manajer aset dan manajer dana, sementara pada tenor 10 tahun mencapai 72 persen. Sisanya berasal dari perusahaan asuransi, dana pensiun, perbankan, serta private bank.
Danantara menilai keberhasilan penerbitan obligasi global perdana tersebut mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental, tata kelola, dan prospek jangka panjang institusi tersebut.
Kepercayaan pasar juga tercermin dari penetapan spread obligasi yang relatif ketat terhadap kurva obligasi negara Republik Indonesia, meskipun transaksi ini merupakan debut penerbitan internasional tanpa rekam jejak obligasi sebelumnya.









