Harga Emas Dunia Dibayangi Tekanan Suku Bunga, Investor Menanti Arah The Fed

Harga Emas Dunia Dibayangi Tekanan Suku Bunga, Investor Menanti Arah The Fed

Ekonomi | idxchannel | Senin, 15 Juni 2026 - 07:00
share

IDXChannel - Harga emas dunia diproyeksi masih dibayangi tekanan sepanjang pekan ini setelah mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Investor akan mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) dalam pertemuan kebijakan moneter pertamanya di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Harga emas spot naik 0,17 persen menjadi USD4.218,56 per troy ons pada Jumat (12/6/2026), namun masih turun 2,53 persen sepanjang pekan lalu.

Tekanan terhadap emas muncul akibat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.

Wakil Presiden sekaligus Strategi Logam Senior di Zaner Metals Peter Grant mengatakan, tekanan inflasi masih berpotensi bertahan meski harga minyak mulai turun.

"Saya pikir inflasi akan bertahan cukup lama, bahkan jika harga minyak turun. Kita sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya dan ada tingkat skeptisisme tertentu," ujar Peter Grant, seperti dikutip Reuters.

Survei mingguan Kitco News menunjukkan sentimen pelaku pasar terhadap emas mulai melemah setelah harga logam mulia tersebut turun mendekati level USD4.000 per troy ons. Investor di Wall Street masih ragu menentukan arah harga emas menjelang keputusan The Fed, sementara sentimen investor ritel mulai bergeser ke zona bearish.

"Harga emas mencapai sekitar USD4.024 di pasar spot pekan lalu, level terendah sejak November lalu," kata Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler.

Analis pasar senior Trade Nation David Morrison memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Namun, ia melihat peluang pemulihan apabila tercapai kesepakatan damai yang dapat melemahkan dolar AS.

"Jika kesepakatan damai tercapai, dan hal itu menyebabkan penurunan signifikan pada dolar AS (meski hal tersebut belum pasti), maka emas dapat kembali menguat seiring membaiknya sentimen terhadap logam mulia," ujar Morrison.

Sementara itu, Senior Commodity Broker StoneX Group Daniel Pavilonis menilai penurunan harga minyak dapat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap logam mulai mereda, terutama jika kesepakatan terkait Iran semakin dekat.

Survei Kitco News terhadap 17 analis menunjukkan pandangan pasar yang masih berhati-hati.

Sebanyak empat analis atau 24 persen memperkirakan harga emas menguat sepekan ini, sementara dua analis atau 12 persen memperkirakan harga emas melemah.

Mayoritas analis, yakni 11 orang atau 65 persen, memilih menunggu arah kebijakan The Fed sebelum menentukan proyeksi.

Sementara itu, jajak pendapat daring Kitco yang melibatkan 70 investor ritel menunjukkan sentimen bearish mulai mendominasi.

Sebanyak 34 investor atau 49 persen memperkirakan harga emas turun sepekan ini, sedangkan 27 investor atau 39 persen memperkirakan harga emas menguat.

Sembilan investor lainnya atau 13 persen menilai harga emas dapat bergerak ke dua arah.

Fokus pasar pekan ini tertuju pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed, yang menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, termasuk penjualan ritel, sektor perumahan, manufaktur, serta klaim pengangguran.

Agenda ekonomi pekan ini akan dimulai dengan rilis survei manufaktur Empire State pada Senin.

Pasar juga akan memperhatikan keputusan kebijakan moneter Bank of Japan, (BOJ) Reserve Bank of Australia (RBA), Swiss National Bank (SNB), dan Bank of England (BOE), serta sejumlah indikator ekonomi utama dari AS.

Pasar saham AS akan tutup pada Jumat (19/6) untuk memperingati libur Juneteenth. (Aldo Fernando)

Topik Menarik