Garap Tambang Pasir Silika, MITI Jajaki Kerja Sama dengan BUMN China

Garap Tambang Pasir Silika, MITI Jajaki Kerja Sama dengan BUMN China

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 30 September 2026 - 11:00
share

IDXChannel - PT Mitra Investindo Tbk (MITI) mengumumkan kerja sama strategis dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA) untuk pengembangan proyek penambangan pasir silika.

CNEC INA diketahui merupakan anak perusahaan dari China Nuclear Engineering & Construction Corporation, perusahaan negara yang dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah China.

Perseroan bersama CNEC INA menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 29 September 2026 terkait kerja sama pengembangan sumber daya mineral dan layanan teknis serta kemitraan strategis untuk pengembangan penambangan 3 konsesi pasir silika yang dimiliki anak usaha MITI.

Presiden Direktur PT Mitra Investindo Tbk, Andreas Tjahjadi mengatakan, tujuan utama MoU ini untuk menyusun kerangka kerja sama yang saling menguntungkan dalam proyek tersebut mulai dari tahapan pra-proyek, termasuk pengambilan sampel pra-proyek, eksplorasi, studi pengembangan, hingga keterlibatan strategis pascaproyek.

Dengan kata lain, MoU tersebut bersifat penjajakan yang belum melahirkan adanya hubungan kemitraan (partnership), usaha patungan (joint venture), atau komitmen keuangan yang mengikat para pihak.

Sebagai informasi, MITI memiliki 3 Izin Usaha Pertambangan (IUP) pasir silika dengan area konsesi seluas 9.895,03 hektare (ha) di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Saat ini, konsesi tersebut belum digarap alias masih dalam tahap eksplorasi.

Ketiga IUP tersebut dikelola oleh anak perusahaan MITI, PT Danau Buntar Kuarsa (DBK), PT Kendawangan Prima Silika (KPS). dan PT Kendawangan Berkah Bersih (KBB). DBK menguasai 4.888 ha konsesi, KPS memiliki 2.965 ha, dan sisanya dimiliki KBB.

Kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) ketiga IUP tersebut diperkirakan mencapai Rp500 miliar. Dengan dana itu, laba bersih MITI diperkirakan bisa bertambah Rp75 miliar per tahun.

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik