Telapak Tangan Berkeringat Terus Bisa Jadi Tanda Hiperhidrosis, Ini Penyebabnya
JAKARTA, iNews.id - Telapak tangan sering berkeringat kerap dianggap sebagai tanda gangguan kesehatan serius, seperti jantung lemah atau paru-paru basah. Namun, kondisi tersebut ternyata lebih sering berkaitan dengan hiperhidrosis, yakni produksi keringat berlebih yang terjadi tanpa dipicu aktivitas fisik atau cuaca panas.
Perawat sekaligus edukator kesehatan Rizal melalui akun X miliknya, @afrkml, menjelaskan tangan yang terus-menerus berkeringat bukanlah indikator pasti adanya penyakit pada jantung maupun paru-paru.
“Buat kakak-kakak kalau kalian belum pada tahu, tangan keringetan terus itu bukan tanda paru-paru basah atau jantung lemah. Mitos itu,” tulis Rizal.
Hiperhidrosis merupakan kondisi ketika tubuh menghasilkan keringat dalam jumlah lebih banyak dibandingkan kebutuhan normal untuk mengatur suhu tubuh. Kondisi ini dapat terjadi di beberapa area tertentu, seperti telapak tangan, telapak kaki, wajah, hingga ketiak.
Meski umumnya tidak membahayakan kesehatan, hiperhidrosis sering kali membuat penderitanya merasa tidak nyaman. Bahkan, pada beberapa kasus, keringat berlebih dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, menulis, menggunakan ponsel, hingga berjabat tangan.
Menurut Rizal, penyebab pasti hiperhidrosis primer atau kondisi yang muncul tanpa adanya penyakit tertentu masih belum diketahui secara jelas. Namun, para ahli menduga kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas sistem saraf simpatik yang terlalu aktif.
Sistem saraf simpatik merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang berperan mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis, termasuk produksi keringat. Ketika sistem ini bekerja berlebihan, kelenjar keringat dapat memproduksi keringat dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
“Sebagian kasus karena saraf simpatik yang ngatur keringat penderita lagi lebay- lebaynya sehingga jadi hiper mengeluarkan keringat,” tulisnya.
Selain faktor saraf, faktor keturunan juga disebut berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami hiperhidrosis. Tidak sedikit penderita yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.
Kecemasan dan stres juga menjadi pemicu yang paling sering memperburuk gejala hiperhidrosis. Saat seseorang merasa gugup atau tertekan, tubuh akan mengaktifkan respons alami yang dikenal sebagai *fight or flight*.
Respons tersebut membuat tubuh bersiap menghadapi situasi yang dianggap mengancam. Akibatnya, detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, suhu tubuh naik, dan produksi keringat ikut bertambah.
“Begitu otak mengira ada potensi ancaman, meski cuma cemas, tubuh langsung bereaksi. Otot tegang, napas cepat, badan panas,” ujar Rizal.
Karena itu, telapak tangan yang berkeringat saat gugup atau berada dalam tekanan belum tentu menandakan adanya penyakit jantung maupun gangguan paru-paru. Kondisi tersebut bisa menjadi bagian dari respons tubuh terhadap stres atau gejala hiperhidrosis.
Meski relatif tidak berbahaya, Rizal mengingatkan agar masyarakat tetap waspada jika keringat berlebih muncul bersamaan dengan gejala lain. Pemeriksaan medis diperlukan apabila kondisi tersebut disertai penurunan berat badan drastis, sering berkeringat pada malam hari, atau sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Meski hiperhidrosis relatif enggak berbahaya, tapi kalau disertai gejala lain seperti berat badan turun drastis, sering keringetan malam, atau keringatnya sampai mengganggu aktivitas, lebih baik periksa,” kata Rizal.










