10 Negara yang Mengubah Nama Mereka, Alasannya Sangat Beragam
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara memutuskan sudah waktunya untuk mengubah nama mereka. Alasannya beragam, tetapi setiap perubahan memiliki latar belakang dan efek riak tersendiri.
10 Negara yang Mengubah Nama Mereka, Alasannya Sangat Beragam
1. Turki Mengumumkan Perubahan Nama Secara Resmi
Melansir AOL, pada tahun 2022, Turki meminta komunitas internasional untuk menyebutnya sebagai "Turkiye," nama dalam bahasa Turki. Para pejabat mengatakan perubahan tersebut akan lebih mencerminkan budaya nasional dan menghilangkan kebingungan dengan burung besar yang dikenal sebagai hidangan makan malam liburan. PBB menerima permintaan tersebut dengan cepat, dan organisasi internasional pun mengikutinya.2. Makedonia Utara Menyelesaikan Perdebatan Panjang
Republik Makedonia setuju pada tahun 2019 untuk menyesuaikan namanya menjadi Republik Makedonia Utara. Langkah ini diambil untuk menyelesaikan perselisihan yang telah berlangsung selama beberapa dekade dengan Yunani.Konflik tersebut berpusat pada klaim atas nama "Makedonia," yang juga merupakan nama sebuah wilayah di Yunani utara. Nama baru tersebut membantu membuka jalan bagi keanggotaan NATO dan menunjukkan bagaimana negosiasi diplomatik dapat membentuk kembali peta.
3. Belanda Mengucapkan Selamat Tinggal pada Holland
Pada tahun 2020, pemerintah Belanda secara resmi menghapus "Holland" dari penggunaan internasional. Alasannya? Holland hanya merujuk pada dua provinsi—Holland Utara dan Selatan—sementara negara tersebut mencakup sepuluh provinsi lainnya. Perubahan ini bertujuan untuk memberikan sorotan yang sama kepada seluruh negara dan menjauh dari stereotip yang hanya terkait dengan satu wilayah.4. Republik Ceko Menggunakan Singkatan Czechia
Meskipun "Republik Ceko" masih benar, negara tersebut meluncurkan "Czechia" pada tahun 2016 sebagai bentuk singkat yang lebih disukai. Nama tersebut lebih cocok untuk jersey olahraga dan acara di panggung global.Meskipun pembaruan ini tidak terlalu diperhatikan oleh sebagian orang, banyak organisasi dan perusahaan internasional secara bertahap beralih ke nama tersebut selama beberapa tahun terakhir.
5. Eswatini Kembali Menggunakan Nama Pra-Kolonialnya
Pada tahun 2018, Raja Mswati III menandai 50 tahun kemerdekaan Swaziland dengan mengubah nama Swaziland menjadi Eswatini. Nama baru ini berarti "Tanah Swazi" dalam bahasa setempat.Nama ini menggantikan versi yang diadaptasi ke bahasa Inggris yang diberlakukan selama pemerintahan kolonial dan membantu mengklarifikasi kebingungan tentang Swiss.
6. Cape Verde Kembali ke Cabo Verde
Negara kepulauan Afrika Barat yang dikenal sebagai Cape Verde pada tahun 2013 meminta untuk disebut secara internasional sebagai Cabo Verde, nama yang digunakan dalam bahasa Portugis. Pembaruan ini tidak sepenuhnya diterima secara global hingga tahun-tahun berikutnya, tetapi tujuannya jelas: melestarikan bahasa negara dan menjaga konsistensi di seluruh peta dan dokumen resmi di seluruh dunia.7. Timor-Leste Merangkul Identitasnya
Setelah bertahun-tahun bergabung dengan Indonesia, Timor Timur merdeka pada tahun 2002 dan secara resmi mengadopsi nama Timor-Leste, yang berarti “Timor Timur” dalam bahasa Portugis.Sejak awal, ini telah menjadi nama yang diakui negara tersebut di lembaga-lembaga global. Meskipun beberapa media masih menggunakan “Timor Timur” untuk kemudahan, Timor-Leste tetap menjadi sebutan internasional resmi.
8. Perbedaan Nama antara Burma dan Myanmar Tetap Diperdebatkan
Meskipun Myanmar menggantikan “Burma” pada tahun 1989, perdebatan tentang penggunaannya terus berlanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan internasional “Myanmar” menjadi lebih konsisten, terutama dalam konteks formal.Namun, beberapa negara dan kelompok lebih memilih “Burma” untuk menandakan penentangan terhadap pemerintah. Penamaan ini tetap menjadi salah satu dari sedikit penamaan yang terus mencerminkan sikap politik daripada sekadar letak geografis.
9. Kazakhstan Menyederhanakan Penamaan Negaranya dalam Bahasa Inggris
Kazakhstan belum secara resmi mengubah nama negaranya, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, lembaga pemerintah dan badan pariwisata semakin sering menggunakan "Kazakhstan" tanpa awalan formal "Republik" dalam materi berbahasa Inggris.Nama resmi negara tetap tidak berubah. Pergeseran ini lebih merupakan preferensi branding dan komunikasi daripada penggantian nama internasional secara formal.
10. Sri Lanka Meninjau Kembali Nama-Nama Lembaga Era Kolonial
Meskipun Sri Lanka mengganti "Ceylon" sebagai nama negaranya pada tahun 1972, diskusi dalam beberapa tahun terakhir telah berfokus pada apakah lembaga-lembaga yang masih terkait dengan negara harus meninggalkan nama-nama era kolonial.Usulan telah diajukan untuk mengganti nama entitas seperti "Bank of Ceylon," sementara "Ceylon Tea" tetap menjadi merek dagang yang diakui secara global. Upaya-upaya ini mencerminkan perdebatan yang sedang berlangsung.






