Putin Peringatkan Produksi Minyak Teluk bisa Berhenti Total dalam Sebulan
Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan produksi minyak yang bergantung pada Selat Hormuz bisa berhenti total dalam waktu satu bulan. Ia memperingatkan tentang risiko serius yang dapat ditimbulkan oleh konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran terhadap pasar energi global.
Tahun lalu, sekitar sepertiga dari ekspor minyak global melalui laut melewati selat tersebut, kata Putin dalam pertemuan pemerintah tentang pasar energi global pada hari Senin.
“Itu sekitar 14 juta barel per hari dan 80 di antaranya menuju negara-negara Asia dan Pasifik,” katanya, menambahkan, “Sekarang, rute ini secara de facto tertutup.”
Lalu lintas melalui selat tersebut dilaporkan turun 80 selama seminggu terakhir setelah AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman mereka terhadap Iran, yang memicu serangan balasan dari Teheran.
Beberapa kapal tanker terkena serangan tersebut. Perkembangan ini mendorong harga minyak mentah di atas USD100 dan memicu ekspektasi akan langkah-langkah energi darurat dari Uni Eropa dan negara-negara ekonomi utama lainnya.“Produksi minyak yang bergantung pada selat tersebut berisiko berhenti total dalam bulan mendatang. Produksi sudah menurun,” ungkap Putin.
“Memulihkan produksi bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan,” tambahnya.
Harga minyak global sudah naik, kata Putin, menambahkan bahwa kenaikan tersebut mencapai lebih dari 30 hanya dalam seminggu terakhir.
Gangguan pasokan energi juga meningkatkan inflasi dan menyebabkan penurunan produksi industri, menurut presiden.
Dunia akan segera berada dalam “realitas harga baru…,” Putin memperingatkan, menyebutnya “tak terhindarkan.”Rusia tetap menjadi “pemasok energi yang andal,” kata presiden, menambahkan Rusia akan terus menyediakan minyak dan gas untuk negara-negara yang juga dianggap sebagai mitra yang andal.
Menurut Putin, daftar tersebut termasuk negara-negara Asia dan anggota Uni Eropa, Slovakia dan Hongaria.
Pada hari Senin, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban dan Menteri Luar Negeri Peter Szijjarto mendesak Brussel untuk mencabut larangan impor minyak dan gas Rusia di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan pelonggaran sanksi terhadap beberapa perusahaan minyak Rusia untuk menstabilkan pasar.
Baca juga: Bantu Pertahanan Teluk, Australia akan Kirim Rudal ke UEA dan Pesawat Pengintai









