Iran Masih Berpengaruh Kuat di Selat Hormuz, Trump Ditekan untuk Hentikan Perang
Meskipun ada ancaman dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan anggota kabinet lainnya, Iran tetap memiliki pengaruh signifikan di Selat Hormuz, menurut Osama bin Javaid dari Al Jazeera. Pendapat itu muncul seiring semakin memanasnya perang antara Iran dan AS-Israel.
“Iran masih berperan di Selat Hormuz,” katanya, seraya menunjukkan Iran tidak perlu secara aktif memblokir jalur air tersebut menggunakan kapal.
Yang perlu dilakukan hanyalah menembakkan cukup banyak rudal dan drone untuk membuat perusahaan asuransi kapal enggan mendukung pelayaran melalui Selat Hormuz.
Selain itu, bos Aramco menyerukan pembukaan Selat Hormuz. Para pedagang dan pembuat kebijakan energi dengan cemas mengikuti permusuhan di Timur Tengah karena serangan telah menghentikan produksi energi dan jalur pelayaran vital.
“Akan ada konsekuensi bencana bagi pasar minyak dunia semakin lama gangguan ini berlangsung, dan semakin drastis konsekuensinya bagi ekonomi global,” ujar presiden dan CEO raksasa minyak Saudi Aramco, Amin H Nasser, kepada wartawan.“Sangat penting agar pengiriman barang kembali beroperasi di Selat Hormuz.”
Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan guncangan pasokan energi terbesar dalam beberapa dekade.
Selat Hormuz pada dasarnya tertutup, dan serangan dilakukan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, mengguncang pasar minyak.
Mulai dari warga Amerika yang mengisi tangki bahan bakar di SPBU hingga pabrik-pabrik di Eropa dan perekonomian Asia, dampaknya sudah mulai terasa.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kenaikan harga minyak adalah “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi “keamanan dan perdamaian”. Namun, investor memperingatkan jika konflik berlanjut, ada bahaya stagflasi.
Itu artinya, tekanan dunia semakin meningkat terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang yang dipicu AS dan Israel tersebut.
Baca juga: Rolex Para Jenderal Barat vs Casio Pemimpin Iran, Kontras Gaya Elite di Tengah Perang








