Iran Tembakkan Rudal Jelajah Qader ke Kapal Induk Amerika USS Abraham Lincoln
Iran mengeklaim bahwa pasukannya telah menembakkan rentetan rudal jelajah ke kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln. Klaim ini disampaikan pada hari Rabu saat serangan terus menghujani Timur Tengah meskipun ada upaya diplomatik melalui jalur belakang untuk mengakhiri perang yang hampir berjalan empat minggu.
“Rudal jelajah Qader Angkatan Laut Iran (rudal anti-kapal berbasis darat) menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln milik AS dan memaksanya untuk mengubah posisinya,” bunyi pernyataan militer Iran, sebagaimana dikutip dari AFP, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Ini Daftar 15 Poin Tawaran Gencatan Senjata AS, Iran Beri Isyarat Menolak
Pernyataan itu mengutip Kepala Angkatan Laut Laksamana Shahram Irani, yang mengatakan: "Pergerakan kelompok kapal induk tersebut terus dipantau... dan segera setelah armada musuh ini memasuki jangkauan sistem rudal kami, armada tersebut akan menjadi sasaran serangan dahsyat oleh Angkatan Laut Iran.”
Perang yang berkobar ini dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Perang dengan cepat melanda seluruh kawasan Timur Tengah, menyebabkan harga minyak meroket dan mengancam mengacaukan ekonomi global.Para diplomat mengatakan mereka bekerja di balik layar untuk menyampaikan pesan antara pihak-pihak yang bertikai, meskipun ada pernyataan publik yang kontradiktif tentang apakah pembicaraan benar-benar terjadi.Namun, aktivitas militer tidak mereda, dengan target di Iran, Israel, Lebanon, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Arab Saudi semuanya menjadi sasaran serangan.
Dari ibu kota Iran, Shayan yang berusia 40 tahun mengatakan kepada AFP: "Ada bensin, air, dan listrik. Tetapi ada rasa ketidakberdayaan di antara kita semua. Kami tidak tahu harus berbuat apa, dan sebenarnya tidak ada yang bisa kami lakukan."
Di front lain, pesawat tempur Israel membombardir pinggiran selatan Beirut, benteng kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran.
Seorang koresponden AFP melihat jalan yang dipenuhi puing-puing, termasuk semen yang hancur dan logam yang bengkok setelah serangan pagi hari, sementara lantai atas sebuah gedung apartemen tampak rusak.
China Dukung Semua Upaya setelah Pakistan Tawarkan Diri jadi Tuan Rumah Perundingan AS-Iran
Lebanon terseret ke dalam perang ketika Hizbullah mulai menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret untuk membalas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 1.000 orang telah tewas dalam lebih dari tiga minggu serangan Israel dan lebih dari satu juta orang telah mengungsi.
Di kota Tyre, Lebanon selatan, yang hampir terisolasi dari bagian negara lainnya akibat bom, Khalil, seorang pria berusia 30-an, menyuarakan penentangannya. "Mereka harus mengambil kami dengan paksa," katanya kepada AFP.
Khalil tak peduli dengan operasi darat Israel dan bayang-bayang invasi besar-besaran. "Kami tidak ingin meninggalkan tanah kami...hati kami ada di sini," katanya, sembari berlindung bersama keluarga mudanya di sebuah teater.
Secara diplomatik, kedua pihak memberikan keterangan yang saling bertentangan meskipun para mediator di wilayah tersebut mengatakan bahwa pekerjaan sedang berlangsung di balik layar.
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung, dengan rencana perdamaian 15 poin yang dilaporkan telah dikirim ke Teheran. Namun Duta Besar Iran untuk Pakistan Reza Amiri Moghadam membantah, dengan mengatakan bahwa tidak ada negosiasi yang terjadi."Bertentangan dengan klaim Trump—sejauh ini belum ada negosiasi yang terjadi," ujarnya.
Surat kabar Javan di Iran memuat karikatur Trump dengan hidung ala Pinokio, dengan judul: "Pembohong paling gagal dan tercela di dunia."
Namun, sebuah sumber diplomatik di kawasan itu mengatakan para mediator sedang menyampaikan pesan antara kedua pihak, yang keduanya terbuka untuk negosiasi.
"Ada harapan, tetapi masih terlalu dini untuk optimis," kata sumber tersebut, yang meminta anonimitas untuk membahas isu-isu sensitif. Kedua pihak perlu dapat mengalah tanpa kehilangan muka, kata sumber tersebut.
Di depan umum, Iran mempertahankan retorika agresifnya, dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan AS: "Jangan menguji tekad kami untuk mempertahankan tanah kami."










