Investor Ritel Bangkit di 2025, Bakal Tetap Dominan di 2026?
IDXChannel - JPMorgan menilai kebangkitan investor ritel menjadi salah satu faktor kunci yang membentuk pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang 2025.
Dalam riset yang terbit pada 2 Desember 2025, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu mencatat peran investor ritel kembali menguat ke level tertinggi sejak pandemi Covid-19, didorong oleh spekulasi indeks dan minat pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan free float terbatas.
“Inti dari tren ini adalah kembalinya investor ritel sebagai pemain utama di pasar, sebuah fenomena yang terakhir kali terlihat pada masa pandemi Covid-19,” kata analis JPMorgan.
JPMorgan mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengungguli indeks MSCI Indonesia (MXID) dan LQ45.
Kinerja tersebut terutama ditopang lonjakan harga saham konglomerat dan saham terkait indeks, di tengah ekspektasi masuknya emiten-emiten tertentu ke dalam indeks MSCI.
Di balik tren tersebut, JPMorgan menyoroti meningkatnya dominasi investor ritel di pasar. Pada Oktober 2025, tingkat partisipasi investor ritel mencapai 58 persen dari rata-rata nilai transaksi harian (average daily trading value/ADTV), menjadi yang tertinggi sejak 2021.
Nilai transaksi ritel pun mencetak rekor baru di Rp14,5 triliun, melampaui rekor sebelumnya sebesar Rp14,4 triliun pada Januari 2021.
JPMorgan memperkirakan partisipasi investor ritel akan tetap tinggi pada paruh pertama 2026, seiring masih kuatnya minat spekulatif dan peran fund kuantitatif (quant funds).
Namun, intensitasnya berpotensi mulai melandai pada paruh kedua 2026, bergantung pada implementasi definisi baru Adjusted Free Float dari MSCI yang diperkirakan diumumkan pada kuartal I-2026 dan mulai berlaku pada Mei 2026.
Sementara itu, arus dana investor institusi diproyeksikan mulai pulih secara bertahap sepanjang 2026.
JPMorgan menilai potensi penguatan aliran dana ini dapat berasal dari mandat investasi publik Danantara, serta meningkatnya alokasi saham dari dana pensiun dan dana tenaga kerja milik negara (BPJS Ketenagakerjaan).
Dalam konteks tersebut, JPMorgan tetap memandang 2026 sebagai tahun penting bagi pasar saham Indonesia setelah melewati fase transisi pada 2025.
JPMorgan menetapkan target IHSG akhir 2026 di level 9.100, dengan potensi naik hingga 10.000 pada skenario optimistis (bull case), serta 7.800 pada skenario pesimistis (bear case). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









