Manufaktur Zona Euro Tertekan, Asia Pertahankan Pertumbuhan Solid
IDXChannel - Aktivitas manufaktur zona euro kembali menyusut pada Desember 2025. Sementara itu, pusat-pusat manufaktur Asia menutup 2025 dengan kondisi yang lebih solid, ditopang pemulihan pesanan ekspor dan meningkatnya permintaan terhadap kecerdasan buatan (AI).
Aktivitas pabrik di zona euro terperosok lebih dalam ke level kontraksi, seiring penurunan produksi untuk pertama kalinya dalam 10 bulan akibat berlanjutnya pelemahan pesanan baru.
Melansir Reuters, Jumat (2/1/2026), Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Zona Euro HCOB, yang disusun S&P Global, turun ke level 48,8 pada Desember dari 49,6 pada November. Angka tersebut merupakan level terendah dalam sembilan bulan.
Survei menunjukkan pelemahan aktivitas yang bersifat luas di 20 negara anggota zona euro. Jerman, ekonomi terbesar di kawasan tersebut, mencatat kinerja terlemah di antara delapan negara yang dipantau, dengan PMI menyentuh level terendah dalam 10 bulan. Italia dan Spanyol juga kembali masuk ke wilayah kontraksi.
"Permintaan terhadap produk manufaktur dari zona euro kembali melambat. Perusahaan tampaknya tidak mampu atau tidak bersedia membangun momentum untuk tahun mendatang dan justru bersikap sangat berhati-hati, yang merupakan racun bagi perekonomian," kata Kepala Ekonom Hamburg Commercial Bank, Cyrus de la Rubia.
Prancis menjadi pengecualian yang jarang terjadi, dengan PMI manufakturnya melonjak ke level tertinggi dalam 42 bulan.
Di Inggris, di luar Uni Eropa, aktivitas manufaktur tumbuh pada laju tercepat dalam 15 bulan pada Desember, didorong pemulihan permintaan setelah anggaran yang disampaikan Menteri Keuangan Rachel Reeves memberikan sedikit kelegaan.
Asia Bersinar
Aktivitas pabrik di negara-negara pengekspor teknologi utama Asia, seperti Korea Selatan dan Taiwan, menghentikan tren penurunan selama beberapa bulan pada Desember. Sementara itu, sebagian besar negara Asia Tenggara mempertahankan pertumbuhan yang solid.
Hasil tersebut mengikuti rilis PMI China pada Selasa, yang juga menunjukkan pembalikan arah yang tak terduga dalam aktivitas manufaktur di ekonomi terbesar kedua dunia itu, dibantu lonjakan pesanan menjelang musim liburan.
Meski masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah eksportir terbesar Asia telah menyesuaikan diri terhadap tarif AS, peningkatan permintaan global meningkatkan optimism untuk memasuki tahun baru.
"Ekspor dari sebagian besar negara melonjak dalam beberapa bulan terakhir, dan kami menilai prospek jangka pendek sektor manufaktur Asia yang berorientasi ekspor tetap kondusif," kata Ekonom Asia di Capital Economics, Shivaan Tandon.
PMI Taiwan naik ke 50,9 pada Desember dari 48,8 pada November, menembus kembali level 50. Sementara itu, PMI Korea Selatan meningkat ke 50,1 dari 49,4, menandai laju ekspansi pertama sejak September.
Kedua negara tersebut termasuk produsen semikonduktor terbesar di dunia, yang memperoleh manfaat besar dari pesatnya pasar kecerdasan buatan.
Di negara Asia lainnya, aktivitas pabrik secara umum tetap tumbuh, meski Indonesia dan Vietnam melaporkan sedikit perlambatan ekspansi.
Aktivitas sektor manufaktur India melambat ke laju pertumbuhan terlemah dalam dua tahun, meskipun tetap menjadi yang terkuat di kawasan.
Secara terpisah, Singapura pada Jumat melaporkan pertumbuhan ekonomi 2025 meningkat menjadi 4,8 persen dari 4,4 persen pada 2024, sementara pertumbuhan kuartalan juga melampaui perkiraan.
S&P Global dijadwalkan merilis PMI Jepang pada Senin pekan depan.
(NIA DEVIYANA)










