Wall Street Ditutup Turun Meski Intel dan AMD Menguat, S&P 500 Tertekan Kinerja JPMorgan
IDXChannel – Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan Selasa (13/1/2025) dengan indeks S&P 500 merosot imbas kinerja JPMorgan yang menyeret saham-saham perbankan turun.
Selain itu, pelaku pasar terpaksa melepaskan keuntungan awal yang diperoleh setelah data ekonomi menunjukkan perlambatan inflasi.
Pada pukul 16.00 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average ditutup turun 398 poin atau 0,8 persen, indeks S&P 500 ditutup 0,2 persen lebih rendah, dan NASDAQ Composite turun 0,1 persen.
Dengan investor yang mengamati perkembangan seputar keputusan Federal Reserve (The Fed), publikasi indeks harga konsumen AS periode Desember menjadi sebuah indikator inflasi yang dipantau ketat, dan telah menarik perhatian lebih.
Inflasi utama AS pada Desember sama dengan bulan sebelumnya, dengan harga konsumen naik 2,7 persen per tahun dan 0,3 persen secara bulanan. Keduanya sama dengan angka pada November, dan sesuai dengan ekspektasi para ekonom.
Dengan mengesampingkan harga barang-barang yang mudah berubah seperti makanan dan bahan bakar, indeks harga konsumen "inti" dari Departemen Tenaga Kerja tercatat sebesar 2,6 persen per tahun dan 0,2 persen per bulan. Angka-angka ini juga sama dengan angka pada November, dan sedikit lebih rendah dari perkiraan.
Data inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja merupakan dua pertimbangan terbesar The Fed dalam menetapkan suku bunga. Data penggajian non-pertanian yang dirilis minggu lalu menunjukkan beberapa ketahanan di sektor tenaga kerja.
"Peluang penurunan suku bunga pada Januari masih tipis. Peluang itu lebih terlihat pada Maret," kata Kepala Perdagangan di Financial Markets Online, Jarek Sklodowki, dilansir dari Investing, Rabu (14/1/2026).
"Pemulihan Amerika masih sesuai rencana, meskipun penciptaan lapangan kerja agak mengecewakan, jadi The Fed tidak akan terburu-buru untuk menurunkan suku bunga, tetapi disinflasi berarti mereka memiliki kebebasan untuk melakukannya,” sambungnya.
Di sisi lain, JPMorgan Chase (NYSE:JPM) melaporkan pendapatan dan laba kuartal keempat yang melampaui perkiraan, tetapi kinerjanya lebih lemah dari perkiraan di divisi perbankan investasinya. Hal itu terjadi tepat ketika akuisisi program kartu kredit Apple membebani laba bank tersebut.
Bank terbesar di Amerika itu mencatatkan penurunan laba sebesar 7 persen setelah memperhitungkan cadangan kredit sebesar USD2,2 miliar yang telah diungkapkan sebelumnya terkait dengan akuisisi program kartu kredit Apple (NASDAQ:AAPL) dari Goldman Sachs (NYSE:GS).
Bank of America (NYSE:BAC), Wells Fargo (NYSE:WFC), dan Citigroup (NYSE:C) dijadwalkan untuk melaporkan pendapatan pada Rabu.
Ditambah dengan data inflasi, hasil pendapatan bank dapat berkontribusi pada suasana pasar saham di awal 2026.
Pendapatan bank yang kuat dapat membantu menggambarkan gambaran yang optimistis tentang keadaan perusahaan-perusahaan di Amerika, dan mungkin meredakan beberapa kekhawatiran di antara investor.
Selain pendapatan JP Morgan, Delta Air Lines (NYSE:DAL) melaporkan laba bersih yang disesuaikan untuk kuartal keempat yang sedikit melebihi ekspektasi analis, tetapi sahamnya turun setelah pendapatan maskapai tersebut meleset dari perkiraan dan investor bereaksi terhadap panduan yang beragam pada 2026.
Sementara itu, saham-saham perusahaan chip mengalami kenaikan dipimpin oleh Advanced Micro Devices Inc (NASDAQ:AMD) dan Intel Corporation (NASDAQ:INTC) setelah Keybank menaikkan peringkat kedua perusahaan tersebut menjadi "overweight" dan menaikkan target harga sahamnya, sehingga masing-masing saham naik lebih dari 7 persen dan 6 persen.
(Febrina Ratna Iskana)








