AGTI Apresiasi Arahan Presiden Prabowo soal Penguatan Industri Tekstil dan Garmen
IDXChannel - Presiden Prabowo Subianto memperkuat industri tekstil dan garmen nasional. Hal ini sebagai sinyal politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi keberlanjutan sektor padat karya.
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto mengatakan, komitmen Presiden Prabowo yang menempatkan industri garmen dan tekstil sebagai sektor strategis perlu diterjemahkan secara konkret oleh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan, regulasi, dan instrumen pelaksanaan yang nyata.
“Industri ini berperan vital dalam penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial-ekonomi nasional,” kata Anne, Kamis (15/1/2026).
Saat disinggung terkait penekanan Presiden Prabowo pada revitalisasi rantai pasok tekstil, AGTI menilai penguatan supply chain perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Rantai pasok tekstil Indonesia yang panjang membutuhkan kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah industri nasional secara berkelanjutan.
“Penguatan industri hulu dalam negeri menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis,” katanya.
Namun, lanjut dia, selama kapasitas nasional belum mencukupi, impor bahan baku tetap diperlukan agar proses produksi tidak terhambat.
“Impor bahan baku bagi produsen yang patuh aturan perlu berjalan cepat dan efisien agar daya saing industri tetap terjaga,” kata dia.
Program hilirisasi yang dibahas Presiden sebagai kunci peningkatan nilai tambah industri tekstil dan garmen. Dengan rantai pasok yang panjang, hilirisasi dinilai mampu memperkuat kemandirian industri sekaligus menjaga kontribusi sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja dan penggerak ekonomi nasional.
Selain itu, pengembangan teknologi dan semikonduktor dinilai berdampak strategis bagi penerapan industri 4.0 di sektor tekstil, ketergantungan terhadap mesin impor masih tinggi, sehingga penguatan industri permesinan dalam negeri menjadi bagian penting dari agenda industrialisasi nasional.
Dia berharap arahan Presiden Prabowo segera ditindaklanjuti melalui kebijakan konkret, termasuk deregulasi, debirokratisasi perizinan, penyediaan energi yang kompetitif, serta dukungan fiskal dan pembiayaan.
“Dengan kebijakan yang terintegrasi, industri garmen dan tekstil dapat kembali meningkatkan daya saing dan memperkuat posisinya sebagai tulang punggung manufaktur padat karya nasional,” kata dia.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas (ratas) dengan para menteri di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Rapat terbatas tersebut membahas mulai dari penguatan pada industri tekstil, pengembangan industri otomotif ke semikonduktor, hingga enam proyek hilirisasi.
“Presiden meminta untuk dilakukannya penguatan dalam industri tekstil/garmen. Salah satunya dengan melakukan revitalisasi rangkaian supply chain,” kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya
Dia menambahkan, pengiatan dalam sektor otomotif/elektronik melalui investasi dalam pengembangan teknologi semikonduktor.
“Hal ini ditujukan untuk membangun industri chip masa depan Indonesia yang akan dimanfaatkan untuk industri otomotif, digital, dan elektronik,” kata Teddy.
(Nur Ichsan Yuniarto)










