Prospek Sepekan: Harga Minyak Masih Rentan Berbalik, Pasar Dibayangi Risiko Geopolitik

Prospek Sepekan: Harga Minyak Masih Rentan Berbalik, Pasar Dibayangi Risiko Geopolitik

Ekonomi | idxchannel | Senin, 19 Januari 2026 - 07:30
share

IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup menguat untuk pekan keempat berturut-turut, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang menutupi kekhawatiran lebih luas soal kelebihan pasokan global.

“Kenaikan terbaru ini dinilai lebih didorong oleh aktivitas lindung nilai dan manajemen risiko ketimbang perubahan struktural pada keseimbangan pasar global,” kata analis XS.com, Antonio Di Giacomo, dalam sebuah catatan, dikutip Dow Jones Newswires.

“Meski skenario dasar pasar mengasumsikan kemungkinan aksi militer langsung Amerika Serikat (AS) terhadap Iran telah menurun, premi risiko tetap bertahan karena potensi eskalasi di Timur Tengah,” ujarnya.

Menurut Giacomo, selama tidak ada gangguan pasokan yang nyata atau pemulihan permintaan yang kuat, minyak kemungkinan terus bergerak dalam kisaran yang sudah terbentuk, dengan volatilitas yang dipicu oleh berita utama, namun tanpa arah tren jangka panjang yang berkelanjutan.

Minyak WTI ditutup naik 0,4 persen ke level USD59,44 per barel pada Jumat lalu, mencatatkan kenaikan mingguan 0,5 persen. Sementara itu, Brent menguat 0,6 persen menjadi USD64,13 per barel, naik 1,2 persen dibandingkan sepekan sebelumnya.

Prospek Sepekan

Analis FXEmpire Christopher Lewis menilai pergerakan harga minyak mentah masih sangat rentan berbalik arah, seiring ketidakpastian terkait situasi Iran dan kemungkinan respons militer Amerika Serikat (AS).

Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak light sweet crude sepanjang pekan lalu terutama dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik dengan Iran.

Namun, harga kemudian berbalik turun setelah muncul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan ketegangan mereda dan peluang aksi militer semakin kecil. Kondisi ini membuat premi geopolitik di pasar minyak cepat tergerus.

Lewis mengingatkan, perdagangan minyak pada Senin akan berlangsung singkat karena libur Martin Luther King Jr. Day di AS.

Hal ini, kata Lewis, bisa berdampak besar terhadap pergerakan harga selanjutnya, apalagi pasar juga dibayangi ketidakpastian apakah akan ada aksi militer selama akhir pekan.

Menurut dia, pola candlestick saat ini mengisyaratkan pasar mulai meragukan terjadinya aksi militer. Namun, volatilitas tetap tinggi. Area USD55 masih menjadi level support kuat.

Jika harga mampu menembus garis EMA 50-mingguan, minyak berpeluang naik menuju kisaran USD63,50 hingga USD64. Sebaliknya, jika gagal, pasar cenderung masuk ke fase sell on rally.

Untuk minyak Brent, Lewis menilai polanya serupa. Brent sempat menguji EMA 50-mingguan di sekitar USD67, tetapi gagal bertahan dan kini berada di bawah level USD65 yang menjadi hambatan penting.

Di sisi bawah, area USD58,50 dipandang sebagai support yang mulai diuji pasar.

“Pasokan global saat ini jauh melampaui permintaan. Namun, harga minyak sudah relatif mencerminkan risiko geopolitik serta kondisi suplai dan permintaan,” kata Lewis.

Ia memperkirakan, secara default pasar akan cenderung melemah saat reli, dengan pergerakan konsolidatif di rentang USD5 untuk kedua jenis minyak. (Aldo Fernando)

Topik Menarik