Isu MSCI Tekan IHSG, DBS Nilai Pasar Indonesia Tetap Menarik

Isu MSCI Tekan IHSG, DBS Nilai Pasar Indonesia Tetap Menarik

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 3 Februari 2026 - 07:30
share

IDXChannel – Pasar saham Indonesia diguncang koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir menyusul penilaian terbaru penyedia indeks global MSCI terkait isu free float dan transparansi kepemilikan saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun lebih dari 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).

Tekanan tersebut muncul setelah MSCI menyoroti praktik perdagangan serta struktur kepemilikan emiten di Indonesia, sekaligus meminta perbaikan tata kelola pasar.

Di sisi lain, otoritas saat ini tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons dan mengatasi persoalan tersebut.

Koreksi kemudian berlanjut pada awal pekan, dengan indeks acuan ditutup melemah tajam 4,88 persen ke level 7.922,73 pada perdagangan Senin (2/2).

Chief Investment Office DBS Bank Joanne Goh dalam risetnya, pada 30 Januari 2026, menilai tekanan tersebut lebih dipicu oleh kebingungan pasar ketimbang memburuknya fundamental.

Saat ini, MSCI masih memberlakukan pembekuan sementara atas sejumlah perubahan indeks, namun telah menetapkan tenggat waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas dan pelaku pasar Indonesia untuk melakukan reformasi yang diperlukan.

Apabila langkah mitigasi tidak dijalankan, Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot di indeks pasar negara berkembang (emerging market/EM), bahkan tidak tertutup kemungkinan diturunkan statusnya menjadi pasar frontier (frontier market/FM).

Menurut hemat Joanne, risiko ini menjadi sentimen negatif jangka pendek, meskipun secara fundamental prospek saham Indonesia dinilai tetap menarik.

DBS mencatat, pasar saham Indonesia diperkirakan mencatat pertumbuhan laba terkuat di kawasan ASEAN pada 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh faktor domestik yang solid, valuasi yang relatif murah, serta imbal hasil dividen yang masih sehat.

Namun, ketidakpastian terkait status pasar membuat pergerakan saham domestik masih berada di bawah tekanan dalam waktu dekat.

Menurut Joanne, rencana penyedia indeks untuk meninjau ulang klasifikasi free float, yang telah diumumkan sejak tahun lalu, dinilai ikut menahan arus masuk dana asing. Hal ini tercermin dari rendahnya kepemilikan investor asing setelah arus keluar dana yang cukup konsisten sepanjang 2025.

Di sisi lain, sejumlah langkah penopang mulai bermunculan. Bank terbesar di Indonesia telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp5 triliun.

Beberapa konglomerasi besar juga tercatat memiliki mandat buyback yang berpotensi diaktifkan jika volatilitas berlanjut.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons cepat dengan menetapkan ketentuan free float minimum sebesar 15 persen bagi perusahaan terbuka.

Terkait risiko penurunan status pasar, DBS mengingatkan bahwa preseden reklasifikasi dari EM ke FM memang pernah terjadi di negara lain, umumnya akibat kegagalan memenuhi kriteria ukuran pasar, likuiditas, atau aksesibilitas bagi investor asing.

Namun, DBS menilai skenario tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental Indonesia saat ini.

Indonesia telah berstatus pasar negara berkembang sejak indeks EM diluncurkan pada 2001. Secara ekonomi, kata DBS, Indonesia tidak berada dalam krisis.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen. Sejak krisis Asia 1997, Indonesia juga telah menjalankan berbagai reformasi struktural, termasuk reformasi subsidi energi dan penguatan pasar obligasi.

“Secara fundamental, pandangan kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar,” kata DBS.

Bahkan dalam skenario terburuk apabila Indonesia direklasifikasi menjadi pasar frontier, demikian kata DBS, Indonesia tetap akan menjadi pasar terbesar di kelompok tersebut, dengan ukuran hampir setengah dari total kapitalisasi seluruh pasar frontier global.

Salah satu bank terbesar di Indonesia juga tercatat masuk dalam jajaran 10 bank terbesar di Asia di luar Jepang berdasarkan kapitalisasi pasar.

Daya tariknya, menurut DBS, terletak pada valuasi yang masih murah, manfaat jangka panjang dari bonus demografi, serta posisinya sebagai penerima keuntungan dari fase “sweet spot” komoditas global.

Atas dasar tersebut, DBS mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham Indonesia. Investor disarankan memanfaatkan koreksi harga untuk mengoleksi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar dengan valuasi yang lebih menarik.

Saat ini, rasio price to earnings (P/E) IHSG maupun LQ45 masih berada di bawah rata-rata historisnya.

Menurut DBS, sambil menunggu ketidakpastian mereda dan fund aktif global kembali melirik Indonesia, investor tetap disarankan mempertahankan alokasi investasinya di pasar domestik. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik