Harga Minyak Anjlok dari 4 Persen, Ketegangan AS-Iran Mereda

Harga Minyak Anjlok dari 4 Persen, Ketegangan AS-Iran Mereda

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 3 Februari 2026 - 07:44
share

IDXChannel - Harga minyak anjlok pada Senin (2/2/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran tengah serius berbicara dengan Washington.

Pernyataan tersebut memberi sinyal meredanya ketegangan dengan anggota OPEC itu, sementara penguatan dolar AS dan prakiraan cuaca yang lebih hangat turut menekan harga.

Kontrak berjangka (futures) Brent jatuh 4,4 persen dan ditutup di USD66,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 4,7 persen ke USD62,14 per barel.

Iran dan AS dijadwalkan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat, demikian disampaikan pejabat dari kedua negara kepada Reuters.

Pada Sabtu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran sedang “serius berbicara”, beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa pengaturan untuk perundingan tengah berjalan.

Sebelumnya, presiden AS berulang kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap Iran jika negara itu tidak menyepakati kesepakatan nuklir atau terus membunuh para pengunjuk rasa.

“Ancaman-ancaman tersebut menopang harga minyak sepanjang Januari,” kata analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.

Di sisi lain, dolar AS turut menguat setelah pelaku pasar mata uang menyambut pencalonan Kevin Warsh oleh Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya.

Dolar yang lebih kuat membuat harga minyak berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

“Prakiraan cuaca yang lebih hangat di AS juga menekan harga minyak, seiring harga berjangka diesel yang berbalik turun tajam,” demikian tulis analis Ritterbusch and Associates.

Kontrak berjangka diesel AS, yang digunakan untuk pemanas dan pembangkit listrik, turun lebih dari 6 persen.

Analis PVM menulis dalam sebuah catatan, bersama ketegangan di Timur Tengah, fenomena polar vortex di AS sempat mendorong harga WTI naik 14 persen dan Brent menguat 16 persen sepanjang Januari.

Namun, seiring meredanya faktor-faktor tersebut, fokus pasar kembali tertuju pada peningkatan persediaan minyak global yang secara luas sudah diantisipasi tahun ini.

Dalam pertemuan pada Minggu, OPEC+ sepakat mempertahankan produksi minyaknya untuk Maret.

Pada November lalu, kelompok tersebut membekukan rencana kenaikan produksi lanjutan untuk periode Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi yang melemah secara musiman. (Aldo Fernando)

Topik Menarik