Ahli BRIN: Proyek Giant Sea Wall Membebani Tanah, Berpotensi Tenggelamkan Pesisir Jawa

Ahli BRIN: Proyek Giant Sea Wall Membebani Tanah, Berpotensi Tenggelamkan Pesisir Jawa

Terkini | idxchannel | Rabu, 4 Februari 2026 - 23:20
share

IDXChannel - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Dr. Ir. Eddy Hermawan mengungkapkan kekhawatiranya terhadap ancaman tenggelamnya kawasan pesisir (coastal area) Pulau Jawa, khususnya wilayah Pantai Utara Jawa atau Pantura.

Ia mengatakan pembangunan dinding laut raksasa (giant sea wall) yang dicanangkan pemerintah pusat dinilai terlalu membebani tanah. Menurut dia, ada pendekatan alami yang lebih realistis terkait ancaman tenggelamnya kawasan pesisir.

"Saya akan fokus kepada bagaimana menyelamatkan saudara-saudara kita yang ada di sekitar coastal area, pantai, jangan gunakan giant wall. Karena itu beratnya minta ampun. Dia akan menenggelamkan,” kata Eddy, Rabu (4/2/2026).

Dia pun menyebut konsep utama membenahi pesisir Jawa seharusnya dengan cara mengembalikan fungsi alam melalui sistem main loop dan pemecah gelombang alami.

Seperti menggunakan hutan mangrove sebagai penyangga (buffer) di mana energi besar dari laut tidak langsung menghantam daratan, melainkan diredam secara bertahap melalui sistem vegetasi yang berlapis.

"Jadi gimana? Back to natural. Gimana caranya? Bikin main loop dengan lipat-lipat-lipat. Jadi bagaimana ini si gelombang yang begitu besar kita pecahkan itu, supaya habis. Jadi kita pasang mangrove, sebagai buffer itu ya,” ucap dia.

Selain itu, faktor keselamatan penduduk menjadi prioritas melalui langkah relokasi yang terukur. Ia mengusulkan, agar penduduk yang tinggal terlalu dekat dengan bibir pantai akan dipindahkan ke area yang lebih tinggi dan berjarak setidaknya 500 meter dari pantai, guna meminimalkan resiko terjangan tsunami atau rob.

"Kita pindahkan penduduk itu 500 meter, jangan dekat pantai. Ketika mereka dipindahkan, naikkan tinggi mereka. Tempat tinggalnya itu. Sudah jauh dari pantai, kita naikkan,” ungkap Eddy.

Eddy menilai, pendekatan alami ini lebih masuk akal mengingat tidak ada teknologi yang mampu menghentikan mencairnya es di kutub secara instan. Pembangunan yang terlalu masif, seperti deretan hotel di wilayah Semarang, justru memperparah kondisi karena penyedotan air tanah yang berlebihan dan penurunan muka tanah (subsidence) yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan.

"Teknologi mana yang bisa mencegah supaya es di kutub tidak mencair? Enggak bisa. Artinya, back to natural. Itu teknologi tidak buang gede, lebih natural, lebih realistis. Karena bayangkan ya, dari mulai Pantura itu hotel-hotel dominan terutama di Semarang. Daya untuk menyedot dan subsidensinya itu sudah no limit,” kata dia.

Maka dari itu, sinergi antara pemecah gelombang alami, pemindahan penduduk ke lokasi yang lebih tinggi, dan penghentian eksploitasi lahan di pesisir merupakan kunci keamanan jangka panjang. 

Hal ini dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan membangun struktur beton yang justru menambah beban bagi tanah pesisir yang kian rapuh.

"Pindahkan mereka, bikin yang lebih tinggi, insyaallah aman. Itu teknologi tidak buang gede, lebih natural, lebih realistis,” kata Eddy.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik