Saham BBCA Tertekan Aksi Lego Jumbo Asing, Simak Prospeknya

Saham BBCA Tertekan Aksi Lego Jumbo Asing, Simak Prospeknya

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 31 Maret 2026 - 12:24
share

IDXChannel – Saham emiten Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun tajam sepanjang tiga bulan pertama 2026 di tengah aksi jual masif investor asing.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.38 WIB, saham BBCA telah melemah 15,98 persen secara year to date (YtD) dan diperdagangkan di level Rp6.500 per saham.

Sepanjang 2025, saham BBCA juga ditutup di zona negatif dengan penurunan 13,40 persen. Kinerja tersebut menjadi penurunan tahunan pertama sejak saham BBCA merosot 8,75 persen pada 2008 saat krisis finansial global.

Investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) di saham BBCA sebesar Rp20,59 triliun sejak awal 2026, menjadi yang terbesar di bursa sejauh ini.

Prospek BBCA

Riset KB Valbury Sekuritas yang terbit pada 31 Maret 2026 menilai BBCA pada dua bulan pertama 2026 masih stabil dan sesuai dengan proyeksi, meski pertumbuhan laba terlihat relatif kecil.

KB Valbury mencatat laba bank-only BBCA pada dua bulan pertama 2026 (2M26) mencapai Rp9,22 triliun, naik 2,8 persen secara tahunan dari Rp8,97 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja tersebut dinilai inline dengan proyeksi, dengan run rate sekitar 98,5 persen terhadap estimasi dua bulan pertama 2026.

Secara keseluruhan, capaian ini masih sejalan dengan skenario proyeksi 2026 yang cenderung optimistis, meski masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan terhadap kinerja setahun penuh.

Pertumbuhan laba BBCA yang relatif datar terutama dipengaruhi pertumbuhan kredit yang lebih moderat, sehingga pertumbuhan top line hanya naik tipis 0,8 persen secara bulanan.

Namun, kinerja tetap ditopang oleh pendapatan non-bunga yang tumbuh 13,2 persen secara tahunan serta penurunan provisi sebesar 18,8 persen yoy, yang menjadi faktor penting menjaga kinerja di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi melemahnya permintaan kredit.

Dari sisi intermediasi, total kredit BBCA tumbuh 5,8 persen yoy menjadi Rp953,22 triliun pada Februari 2026.

KB Valbury menilai perlambatan ini lebih disebabkan efek basis tinggi (high base effect) pada tahun lalu, bukan pelemahan struktural permintaan kredit.

Sementara itu, likuiditas tetap kuat dengan dana pihak ketiga tumbuh 9,9 persen yoy menjadi Rp1.227,76 triliun, ditopang pertumbuhan CASA 13 persen dan giro yang melonjak 22,3 persen yoy.

Net interest margin (NIM) tercatat 5,24 persen, turun dibandingkan 5,75 persen pada periode yang sama tahun lalu, namun masih dianggap stabil dan berada dalam kisaran target 2026 di level 5,4 persen.

Kualitas aset juga tetap solid dengan credit cost rendah di 0,31 persen, membaik dari 0,40 persen pada Februari 2025.

KB Valbury memperkirakan laba bersih konsolidasi BBCA pada kuartal I-2026 akan mencapai Rp14,64 triliun, sedikit di bawah konsensus pasar Rp14,80 triliun.

Secara umum, proyeksi manajemen dinilai realistis dengan target pertumbuhan kredit 8-10 persen, NIM 5,4-5,6 persen, dan credit cost 40-50 basis poin.

Meski demikian, KB Valbury menyoroti risiko dari sisi kepercayaan pasar akibat ketidakpastian ekonomi domestik, melemahnya konsumsi, serta perubahan outlook peringkat kredit oleh Moody's dari stabil menjadi negatif.

Tekanan juga datang dari ketegangan geopolitik global dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, KB Valbury menilai saham BBCA masih menarik dengan potensi katalis dari dividend yield yang tinggi, rencana buyback saham, serta peluang pembagian dividen interim kuartalan pada 2026.

KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk BBCA dengan target harga Rp9.760 per unit berbasis metode GGM (3,9 kali rasio PBV 2026), sementara saham saat ini diperdagangkan di kisaran 2,6 kali PBV atau berada di level minus 2 standar deviasi dari rata-rata valuasi historis. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik