Produsen Waspadai Kelangkaan Plastik 50 Hari ke Depan, Minta Konsumen Hemat

Produsen Waspadai Kelangkaan Plastik 50 Hari ke Depan, Minta Konsumen Hemat

Terkini | idxchannel | Selasa, 7 April 2026 - 10:00
share

IDXChannel - Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengingatkan potensi kelangkaan kemasan plastik di pasaran. Kekhawatiran ini menyusul kesulitan memperoleh bahan baku plastik berupa nafta yang banyak dipasok negara Timur Tengah.

Eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran yang masih meruncing mengakibatkan tersendatnya distribusi rantai pasok produksi plastik seiring diblokadenya Selat Hormuz. Pelaku industri plastik yang masih bertahan melakukan produksi sesuai bahan baku tersisa secara terbatas.

"Karena memang barangnya (bahan baku plastik) yang ada terbatas karena itu kami antisipasi jangan sampai 50 hari ke depan tuh habis di tengah jalan," kata Sekjen Inaplas Fajar Budiono kepada IDXChannel, Senin (6/4/2026).

Kepada konsumen, Fajar mengimbau agar penggunaan plastik seminimal mungkin. Sebab, kelangkaan bahan baku yang memicu inflasi harga kemasan plastik belum tahu bakal berlangsung sampai kapan, menyusul ketidakpastian global.

"Jadi jangan sampai berlebihan juga untuk menggunakan plastik, contoh kalau kita belanja ya sudah kita tidak harus semua sudah pakai kantong plastik secara berlebihan. Kami harus benar-benar jaga stok sehingga kami mau minta kepada pengguna ya harus belanja sesuai dengan kebutuhannya saja," katanya.

Seturut itu, Fajar menekankan soal produsen dalam kondisi yang tak ingin bertaruh risiko bisnis. Fajar menekankan para produsen belum berani menambah stok bahan baku untuk memproduksi plastik di saat harga sedang tinggi-tingginya.

Adapun merujuk Trading Economics, bahan baku plastik berupa nafta naik (1,08 persen) menjadi USD995,66 per ton pada 6 April 2026. Selama sebulan terakhir, harga Naftha telah naik 27,77 persen, dan naik 86,31 persen dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.

Terkini, yang sedang dilakukan produsen kemasan plastik adalah melakukan penyesuaian produksi, baik mencari sumber alternatif bahan baku hingga mengatur ulang ukuran plastik. Pada mulanya, Fajar mengatakan bahwa produsen bisa menaikkan kandungan daur ulang dengan material virgin sebagai upaya inovasi produksi. Pencampuran material ini digadang-gadang bisa menurunkan biaya produksi, selain sebagai alternatif pembuatan plastik.

"Yang jelas memang nanti harga akan ada di keseimbangan baru, enggak mungkin harga kembali lagi seperti sebelum krisis perang ini," kata Fajar.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik