Fundamental Membaik dan Reformasi Dipacu, Indonesia Kian Menarik bagi Investor Global

Fundamental Membaik dan Reformasi Dipacu, Indonesia Kian Menarik bagi Investor Global

Terkini | idxchannel | Kamis, 23 April 2026 - 15:54
share

IDXChannel – Perbaikan fundamental ekonomi serta arah reformasi yang kian jelas membuat Indonesia tetap menarik di mata investor global, meski sejumlah tantangan struktural masih perlu dibenahi.

Pandangan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam ajang Prasasti Luncheon Talk yang berlangsung di Ballroom Pullman Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Acara tersebut dihadiri ratusan pejabat dan eksekutif, serta dibuka melalui keynote speech oleh Board of Advisors Prasasti yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo.

Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain Board of Advisors Prasasti sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda, serta mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad.

Hashim Djojohadikusumo menyampaikan bahwa kondisi global saat ini merupakan salah satu yang terberat dalam sejarah modern, bahkan melampaui krisis sebelumnya.

Namun, situasi tersebut justru memvalidasi pentingnya strategi ketahanan yang telah lama ditekankan pemerintah, khususnya dalam sektor pangan dan energi.

“Program utama yang menjadi fokus adalah food security, energy security, dan water security,” katanya. 

Di sektor pangan, Hashim mengungkapkan bahwa Indonesia telah mencatat capaian signifikan dengan peningkatan cadangan beras nasional.

Saat ini, stok beras yang dikelola pemerintah telah mencapai sekitar 4 juta ton dan diproyeksikan segera meningkat menjadi 5 juta ton.

“Apapun yang terjadi, Indonesia aman untuk satu tahun ini, bahkan mungkin dua tahun,” kata Hashim. 

Di sektor energi, Hashim mengakui Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor. Namun, upaya diplomasi tingkat tinggi dinilai telah memberikan hasil konkret dalam menjaga pasokan energi nasional.

“Kita mendapatkan suplai sekitar 100 juta barrel dari Rusia, dan ini akan mulai dikirim dalam waktu dekat. Kita juga memiliki opsi tambahan hingga sekitar 50 juta barrel,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Hashim menilai, kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam posisi yang kuat, didukung oleh surplus neraca perdagangan serta kemandirian pembiayaan.

“Kita memiliki surplus sekitar USD27 miliar dan tidak perlu bergantung pada fasilitas pembiayaan eksternal,” ujarnya. 

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana manyatakan pemerintah memastikan stabilitas makro tetap terjaga sebagai fondasi utama pertumbuhan. Menurut dia, disiplin fiskal tetap menjadi prioritas.

“Sampai saat ini tidak ada niat untuk memperlebar defisit. Justru yang kita dorong adalah bagaimana belanja menjadi lebih produktif dan berdaya ungkit bagi ekonomi nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi ketidakpastian global, termasuk tekanan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan.

“Kita sudah punya ancang-ancang dan persiapan untuk menghadapi berbagai skenario,” kata Eka.

Meski dihadapkan pada tekanan eksternal, pemerintah tetap mempertahankan target pertumbuhan jangka menengah dengan menitikberatkan pada penguatan struktur ekonomi serta peningkatan kualitas belanja negara.

Seiring upaya menjaga stabilitas tersebut, investor mulai menangkap sinyal perbaikan fundamental yang mendorong optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Managing Partner Ashmore Asset Management Indonesia, Arief Wana, menyampaikan, faktor pertumbuhan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan investasi para investor global.

“Dalam enam bulan terakhir, trajectory dari growth itu sudah membaik. Money supply meningkat, interest rate turun, bond yield juga sudah turun, bond price naik, dan equity juga membaik,” katanya.

Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia juga dinilai relatif lebih menarik dibandingkan negara lain di kawasan. Dengan rasio price-to-earnings (PER) yang lebih rendah, pasar domestik dinilai masih menyimpan ruang kenaikan ke depan.

“Indonesia memiliki PE Ratio di 11,8 kali. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia ini murah,” kata Arief.

Meski demikian, investor tetap mencermati sejumlah risiko, terutama terkait keberlanjutan pertumbuhan dan dinamika eksternal.

Arief memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan pada 2026 akan lebih moderat dibandingkan proyeksi awal.

“Awalnya kita melihat sekitar 12-15 persen, tapi sekarang sekitar 7 persen,” ujarnya.

Sejalan dengan pandangan investor tersebut, OJK terus memperkuat fondasi struktural guna meningkatkan daya tarik investasi pasar modal dalam negeri.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Henry Rialdi, menyebutkan bahwa transparansi menjadi fokus utama reformasi pasar modal.

“Salah satu isu yang disampaikan adalah adanya gap antara informasi yang tersedia dengan kebutuhan investor di pasar modal, khususnya dari sisi availability of information dan transparansi,” ujarnya.

Untuk itu, OJK terus mendorong akselerasi inisiatif-inisiatif reformasi di pasar modal domestik.

“Langkah reformasi ini kami arahkan pada tiga hal utama, yaitu transparansi, enforcement dan governance, serta pengembangan instrumen agar pasar kita lebih kompetitif,” kata Henry.

Sejumlah langkah konkret telah dilakukan, termasuk penyediaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, peningkatan granularitas klasifikasi investor, implementasi pengumuman daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), serta peningkatan batas minimum free float saham menjadi 15 persen.

FTSE Russell telah memberikan catatan positif dan mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, dan tidak memasukkan Indonesia dalam Watch List.

Sementara, MSCI dalam pengumuman terbarunya mengapresiasi langkah-langkah penguatan transparansi yang dilakukan oleh otoritas pasar modal Indonesia. (Aldo Fernando)

Topik Menarik