Dukung Hilirisasi Baja, Kemenperin Pertajam Potensi IKM Perkakas Tangan

Dukung Hilirisasi Baja, Kemenperin Pertajam Potensi IKM Perkakas Tangan

Terkini | idxchannel | Senin, 27 April 2026 - 04:10
share

IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan industri kecil dan menengah (IKM) perkakas tangan sebagai bagian dari upaya hilirisasi komoditas baja nasional.

Kemampuan industri dalam negeri memproduksi perkakas tangan untuk sektor pertanian dan perkebunan dinilai semakin andal, terlihat dari kemampuannya memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan produk berkualitas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri ini memiliki potensi besar meski diproduksi melalui proses manufaktur sederhana.

“Industri ini didukung dengan banyaknya tenaga kerja di sentra-sentra produksi yang telah menguasai keterampilan pembuatannya secara turun-temurun. Selain itu, pasarnya juga masih sangat besar mengingat Indonesia merupakan negara agraris,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/4/2026).

Dia menjelaskan, kebutuhan terhadap perkakas tangan masih tinggi, baik dari pelaku IKM, industri besar, maupun perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, dan pertanian, khususnya untuk kegiatan panen.

“Melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), perkakas tangan buatan IKM di sentra-sentra daerah diharapkan semakin terserap pasar domestik. Perusahaan juga semakin yakin menggunakan produk IKM yang telah memiliki sertifikasi SNI,” katanya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebut jumlah IKM perkakas tangan mencapai 123 unit usaha dengan 512 tenaga kerja berdasarkan data SIINas hingga pertengahan November 2025.

“Sentra terbanyak berada di Sumatera Utara, antara lain di Kota Pematang Siantar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat,” ujarnya.

Selain Sumatera Utara, sentra industri ini juga tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera Barat, Riau, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, hingga Sulawesi Selatan.

Dalam memperkuat daya saing, Kemenperin melalui Ditjen IKMA terus bersinergi dengan pemerintah daerah, akademisi, serta pelaku usaha untuk mengembangkan sentra IKM.

Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan bahan baku baja dengan komposisi tertentu, persaingan produk impor, serta kebutuhan investasi teknologi yang cukup besar.

Untuk mengatasinya, pemerintah menjalankan berbagai program, mulai dari fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, restrukturisasi mesin, hingga kemitraan dengan penyedia teknologi.

Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari menyampaikan bahwa IKM perkakas tangan memiliki potensi besar menjadi mitra industri besar, BUMN, maupun pemerintah daerah, baik secara langsung maupun melalui platform digital.

Sebagai contoh, PT Sarana Panen Perkasa (SPP) di Medan yang memproduksi alat panen perkebunan seperti egrek, dodos, dan aneka pisau, telah memiliki sertifikasi SNI dan TKDN. Produk perusahaan tersebut juga telah diekspor ke berbagai negara, antara lain Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.

“Dalam dua tahun terakhir, PT SPP siap meningkatkan kapasitas produksi dengan dukungan pasokan bahan baku berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel,” ujar Dini.

Penulis: Nasywa Salsabila

(Dhera Arizona)

Topik Menarik