Laba Astra (ASII) Susut 16 Persen, Kinerja Divisi Alat Berat dan Tambang Menurun

Laba Astra (ASII) Susut 16 Persen, Kinerja Divisi Alat Berat dan Tambang Menurun

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 30 April 2026 - 19:54
share

IDXChannel - PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih Rp5,9 triliun sepanjang kuartal I-2026. Capaian ini 16 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025.

Seiring dengan capaian tersebut, pendapatan bersih konsolidasian juga turun yakni 6 persen menjadi Rp78,7 triliun.

Presiden Direktur ASII Rudy mengatakan, penurunan ini disebabkan oleh kinerja yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi, terutama akibat kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, serta volume lebih rendah di bisnis alat berat dan bisnis jasa penambangan.

“Pada kuartal pertama tahun 2026, laba grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).

Rudy mengungkapkan, laba bersih divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi menurun 79 persen menjadi Rp408 miliar. Pada periode ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengakui non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. 

Penurunan kinerja terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada 2026.

Penjualan alat berat Komatsu menurun 20 persen menjadi 1.107 unit, terutama didorong oleh penurunan permintaan dari sektor tambang.

Selanjutnya, laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas ASII meningkat 4 persen menjadi Rp2,4 triliun dari Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini didukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah.

Kemudian, laba bersih divisi Jasa Keuangan ASII meningkat 6 persen menjadi Rp2,3 triliun, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.

Lebih lanjut, laba bersih divisi Agribisnis ASII meningkat 35 persen menjadi Rp298 miliar, terutama didorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sebesar 6 persen menjadi 457.000 ton, dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp14.556 per kg.

Divisi Infrastruktur ASII mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 32 persen menjadi Rp343 miliar, disebabkan oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas.

Konsesi jalan tol ASII mencatatkan peningkatan pendapatan harian sebesar 14 persen.

Divisi Teknologi Informasi ASII mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 47 persen menjadi Rp53 miliar, disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.

Terakhir, Divisi Properti ASII melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 145 persen menjadi Rp115 miliar, terutama berasal dari aset-aset gudang industri yang baru diakuisisi.

Sebagai informasi, laba bersih per saham ASII lebih rendah 15 persen menjadi Rp146. Tanpa memperhitungkan non-recurring charges, laba bersih per saham lebih rendah 7 persen menjadi Rp170.

Nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2026 naik sebesar 2 persen menjadi Rp5.810.

Utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan, mencapai Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026, dibandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham.

Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan mencapai Rp66,0 triliun pada 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik