Kenaikan Pertamax Akan Picu Efek Domino, Pengusaha Warteg Khawatir Omzet Tertekan
IDXChannel - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pengusaha warung Tegal (Warteg).
Ketua Komunitas dan Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni mengatakan, meski harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan, kenaikan Pertamax dapat memberikan efek domino terhadap aktivitas ekonomi di tingkat bawah.
Dia menambahkan, meskipun biaya logistik skala besar belum mengalami lonjakan signifikan karena masih ditopang oleh BBM subsidi, namun pelaku usaha yang menggunakan Pertamax untuk mobilitas sehari-hari akan menghadapi peningkatan biaya operasional.
Akibatnya, pelaku warteg diprediksi akan menghadapi kenaikan harga bahan baku secara bertahap, terutama untuk komoditas yang dibeli setiap hari di pasar tradisional seperti cabai, bawang, minyak goreng, dan sayuran.
"Cepat atau lambat, tambahan biaya ini akan digeser ke harga jual komoditas pangan. Pelaku warteg diprediksi akan segera menghadapi kenaikan harga bahan baku merayap di tingkat pasar tradisional tempat mereka berbelanja harian," kata Mukroni, Jumat (12/6/2026).
Di sisi lain, Mukroni menilai pengusaha warteg berada dalam posisi yang cukup rentan. Pasalnya, mereka tidak memiliki ruang yang besar untuk menaikkan harga makanan karena mayoritas konsumennya berasal dari kelompok masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga.
"Jika porsi makan dinaikkan Rp1.000 saja, risikonya pembeli bisa langsung pindah atau berkurang," lanjutnya.
Selain menghadapi potensi kenaikan harga bahan baku, pelaku warteg juga dibayangi penurunan daya beli masyarakat.
Kenaikan biaya transportasi yang dirasakan pengguna Pertamax diperkirakan akan membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, termasuk untuk kebutuhan makan di luar rumah.
Mukroni menambahkan, kelompok pekerja kantoran, buruh, hingga pengemudi ojek online yang menjadi pelanggan utama warteg berpotensi mengurangi pengeluaran konsumsi apabila beban biaya transportasi terus meningkat.
"Ketika pengeluaran bensin mereka membengkak, ruang belanja untuk porsi makan di luar otomatis ikut menyusut. Akibatnya, omzet harian warteg berpotensi ikut tertekan jika situasi ini bertahan lama," kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)










