Langkah Agresif BI dan Respons Rasional Pemerintah Dinilai Sukses Jinakkan Pasar Uang
IDXChannel - Rentetan kebijakan yang dieksekusi Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah dalam beberapa waktu terakhir dinilai berhasil meredam dampak spiral psikologis pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sinergi bauran moneter yang berani tersebut mendapat apresiasi positif karena mampu memanfaatkan celah dinamika global untuk memperkuat otot ekonomi domestik.
Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky memandang langkah agresif BI menaikkan suku bunga acuan secara paralel dengan optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) merupakan strategi yang tepat untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bank sentral dinilai cerdik dalam memancing masuknya aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus menyerap likuiditas guna menstabilkan pasar uang.
"Dari sisi trading strategi (in short run) mencegah dampak spiral psikologis terus melemahnya rupiah, saya pikir kita harus punya kawan bersama, langkah agresif BI patut kita apresiasi, termasuk celah yang dimanfaatkan terkait The Fed yang terus mendorong USD melemah terhadap Yuan (rezim devisa control China), di saat USD index didorong volatile menguat terhadap mata uang dunia yang menganut devisa bebas, termasuk Indonesia," kata Yanuar dalam analisisnya, dikutip Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, optimisme pasar jangka pendek ini kian solid berkat respons rasional dari pihak pemerintah di sektor riil. Kelenturan sikap pemerintah yang bersedia membuka ruang titik temu (win-win solution) dengan pelaku pasar ekspor dan meredam ketegangan dagang, khususnya dengan China sebagai negara mitra pemesan komoditas terbesar Indonesia, turut diapresiasi.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui pembatalan rencana skema gross split di sektor pertambangan, serta kepastian peran institusi Danantara (DSI) yang ditegaskan tidak akan mengganggu model bisnis sektor swasta, melainkan fokus pada fungsi pengawasan kepatuhan harga (transfer pricing).
Gerak cepat ini langsung direspons positif di lantai bursa melalui aksi beli bersih (net buying) oleh investor domestik pada saham-saham sektor komoditas strategis.
"Upaya short run BI, juga didukung sinyal pemerintah yang mulai 'berubah' mencari titik win-win dengan pasar ekspor, khususnya merespons kerasnya China atas kebijakan di sektor tambang dan isu satu pintu ekspor DSI. Pause impor China adalah pukulan terbesar yang harus dibaca, bukan trading hub Singapore," ujar Yanuar.
Di bidang pengelolaan keuangan negara, Yanuar memberikan nilai positif terhadap langkah berani pemerintah yang mulai rasional dalam menyusun postur anggaran belanja.
Keputusan untuk melakukan efisiensi dan pemotongan pada program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDMP) dinilai sebagai langkah penyelamatan fiskal yang sangat bijak di tengah ketatnya pasar surat utang global.
"Pemerintah menjadi rasional memotong MBG dan KDMP, saat sudah berdarah-darah, dan sulitnya masuk ke pasar surat utang dengan tekanan persepsi fiskalnya plus naiknya yield global. Ini positif," katanya.
Meski mengapresiasi kesuksesan strategi jangka pendek (short-run) otoritas yang berhasil membalikkan arah kurva pergerakan rupiah dan IHSG ke zona hijau, Yanuar mengingatkan pemerintah tidak boleh terlena.
Penguatan fundamental ekonomi jangka panjang harus segera menyasar pada perbaikan daya beli kelas menengah yang mulai tergerus akibat fenomena inflasi dorongan biaya (cost-push inflation).
Dengan demikian, Yanuar menekankan pentingnya bagi para pembuat kebijakan untuk mendengarkan aspirasi publik, termasuk pesan penyeimbang dari aksi demonstrasi mahasiswa.
Pemerintah diharapkan mampu menjaga harapan (hope) generasi muda dengan tetap menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat sipil guna memastikan roda transformasi ekonomi berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.
(Dhera Arizona)









