CNG Dibidik untuk Tekan Impor LPG, Bahlil: Lebih Murah hingga 40 Persen bagi Masyarakat
IDXChannel — Kementerian ESDM menyiapkan peta jalan (roadmap) jangka panjang untuk mengunci pasokan gas domestik demi kebutuhan rakyat, khususnya mengonversi penggunaan LPG yang saat ini masih didominasi impor ke Compressed Natural Gas (CNG) produksi dalam negeri pada 2028-2029.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan konsumsi LPG Indonesia sebanyak 8,5 juta metrik ton, sementara industri dalam negeri hanya mampu memproduksi 1,8–1,9 juta metrik ton.
Substitusi LPG impor ke CNG, kata dia, juga lebih murah mengingat bahwa Indonesia saat ini mengalami bocor devisa hingga Rp140–Rp150 triliun per tahun hanya untuk impor LPG. Dengan harga energi dunia yang tidak menentu, pemerintah akan menggenjot infrastruktur CNG.
Selain tidak perlu impor, harga CNG di masa depan diproyeksikan 30 hingga 40 persen lebih murah bagi masyarakat dibandingkan LPG.
Rencana ini ditopang temuan cadangan gas raksasa baru sebesar 5 TCF oleh perusahaan energi asal Italia, ENI, di Kalimantan Timur.
“Kalau CNG kita pakai enggak perlu impor karena gas kita banyak. Apalagi kemarin kita baru ketemu di Kalimantan Timur yang dari ENI, kita dapat sekitar 5 TCF. Artinya 2028-2029 itu produksi ENI itu 3.000 MM, sementara untuk mengonversi CNG secara keseluruhan itu tidak lebih dari 800 MM. Dari sini aja udah clear,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Bahlil membeberkan karakter gas bumi Indonesia mayoritas adalah jenis C1 dan C2. Jenis gas ini sangat cocok untuk diolah menjadi LNG dan jaringan gas (jargas) domestik.
“Memang kondisi gas kita, LPG kita itu harusnya gasnya C3-C4, yang banyak gas kita itu adalah C1 dan C2. Dan itu cocok untuk LNG dan jargas. Nah untuk kita mendorong bauran energi, mau tidak mau kita bikin CNG,” ucap Bahlil.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan roadmap detail (tahapan implementasi) terkait subtitusi CNG sedang digodok. Substitusi ini diprediksi mampu menghemat biaya energi hingga 30 persen dibandingkan LPG.
256.369 Pendaftar Lolos UTBK SNBT 2026
“Selain menguntungkan secara ekonomi bagi konsumen, penggunaan gas bumi juga akan memperkuat kedaulatan energi nasional karena sumber gasnya tersedia melimpah di wilayah Indonesia,” ujar Laode, pada kegiatan Talkshow bersama Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), belum lama ini.
Ketua Umum ASPEBINDO Anggawira juga menekankan bahwa para pengusaha di sektor gas telah lama menantikan komitmen Pemerintah yang nyata terkait optimalisasi sumber daya gas bumi domestik.
“Kami bersama asosiasi industri terus berupaya menyampaikan kajian bagaimana kita bisa mengoptimalkan gas bumi yang kita miliki. Kami yakin pengusaha di bidang gas ini sebenarnya sudah siap,” kata Anggawira.
Anggawira menambahkan bahwa dari perspektif pasar, CNG dan LNG adalah solusi yang dinantikan oleh pelaku UMKM dan industri rumah tangga. Dengan estimasi penghematan biaya energi hingga 20-30 persen dibandingkan LPG, konversi ini diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi di lapisan masyarakat bawah.
“Kegiatan ini memberikan rasa optimisme untuk kita semua. Kami di asosiasi saling mendorong dan memperkuat agar bisa mendorong pertumbuhan pengusaha-pengusaha di dalam negeri,” kata dia. (Reporter: Eugenia Siregar)
(NIA DEVIYANA)










