Bank Sentral Global Borong Logam Mulia, Kompak Kurangi Eksposur Terhadap Dolar AS

Bank Sentral Global Borong Logam Mulia, Kompak Kurangi Eksposur Terhadap Dolar AS

Terkini | idxchannel | Minggu, 12 Juli 2026 - 16:14
share

IDXChannel—Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan sejumlah bank sentral global memborong emas sebagai upaya diversifikasi terhadap ketergantungan dolar yang memiliki volatilitas tinggi pascakonflik di Timur Tengah.

Ibrahim menjelaskan bahwa hasil survei World Gold Council (WGC) menunjukkan sekitar 45 persen bank sentral di dunia berencana terus menambah cadangan emas mereka. 

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

"Tujuan utama dari bank sentral global memborong logam mulia adalah untuk mendiversifikasi aset, menghindari ketergantungan pada dolar AS, dan sebagai aset aman yang kinerjanya terbukti saat krisis ekonomi dan inflasi tinggi. Harga emas di atas harga inflasi," ujar Ibrahim dalam pernyataan resmi, Minggu (12/7/2026).

Ia mencontohkan bank sentral China yang dilaporkan membeli sekitar 15 ton emas pada Juni 2026, yang diklaim menjadi rekor pembelian bulanan tertinggi sepanjang tahun ini. Sementara itu, bank sentral Polandia dilaporkan telah menambah cadangan emas hingga 82 ton pada semester pertama 2026.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut cadangan emas Rusia justru mengalami penurunan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kebutuhan pembiayaan di tengah konflik dengan Ukraina yang masih berlangsung, meski klaim tersebut belum disertai data resmi.

Ia menilai, kondisi ini berpengaruh terhadap prospek harga emas dunia. Untuk perdagangan dalam sepekan ke depan, harga emas dunia diproyeksikan bergerak pada kisaran level support USD3.906 per troy ounce hingga resistance USD4.348 per troy ounce. 

Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan berada pada rentang Rp2.570.000 hingga Rp2.800.000 per gram.

Menurut Ibrahim, pembelian emas oleh bank sentral dilakukan sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa. Selain mengurangi eksposur terhadap dolar AS, emas dinilai menjadi instrumen investasi yang mampu mempertahankan nilai ketika inflasi tinggi maupun saat terjadi gejolak ekonomi global.

"Jadi, dalam sepekan, emas dunia itu kemungkinan ditransaksikan di support-nya USD3.906 troy ounce, kemudian resisten tertingginya di USD4.348 per troy ounce. Itu untuk emas dunia. Untuk logam mulia sendiri, kemungkinan ditransaksikan di support Rp2.570.000 per gram, kemudian resistennya itu di Rp2.800.000 per gram," jelas Ibrahim.


(Nadya Kurnia)

Topik Menarik