Serap 15.000 Tenaga Kerja, Nilai Ekspor Mainan Buatan RI Tembus Rp6,3 Triliun
IDXChannel—Industri mainan nasional mencatatkan kinerja perdagangan luar negeri yang positif. Dalam lima tahun terakhir, sektor ini konsisten mencetak surplus neto ekspor, didorong oleh peningkatan penetrasi ke sejumlah negara tujuan utama.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat nilai ekspor industri mainan pada 2025 meningkat 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni mencapai USD664,6 juta atau sekitar Rp11,9 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.950 per USD).
Tren pertumbuhan ini berlanjut pada semester pertama 2026. Pada periode tersebut, nilai ekspor mainan Indonesia melonjak menjadi USD351,8 juta (sekitar Rp6,3 triliun) dari periode yang sama di tahun 2025 sebesar USD297,7 juta (sekitar Rp5,3 triliun).
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyampaikan bahwa industri mainan memiliki potensi besar sebagai sektor padat karya sekaligus penghasil produk bernilai tambah.
"Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko, dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global," ujar Reni Yanita dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Reni menambahkan, tantangan utama industri manufaktur dalam negeri saat ini tidak hanya terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada penyerapan produk di pasar domestik serta integrasi ke dalam rantai pasok global.
"Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global," tuturnya.
"Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional," tambahnya.
Berdasarkan data BPS tahun 2024 dan SIINas 2025, sektor industri mainan di Indonesia disokong oleh 256 unit usaha yang menyerap hingga 15.663 tenaga kerja. Selain itu, terdapat 10 sentra IKM mainan yang tersebar di Jawa Tengah (4 sentra), Jawa Barat (5 sentra), dan Jawa Timur (1 sentra).
Selain membidik pasar internasional, Kemenperin juga mendorong penguatan pasar domestik melalui Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan kewajiban standar mutu. Hingga tahun 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah.
Langkah penguatan ekosistem ini disinergikan melalui gelaran Indonesia Toy Forum 2026 hasil kolaborasi Ditjen IKMA Kemenperin dengan Asia Toy and Play Association (ATPA). Kegiatan ini diisi dengan seminar serta pameran yang diikuti oleh 25 pelaku industri, termasuk perwakilan dari PT Mattel Indonesia, EMWAY Globalindo, The LEGO Group, dan PT Chateda.
(Sheqilla Sukma)










