LaLiga Tegas Perangi Pembajakan Digital di Industri Sepak Bola, Media Sosial Jadi Sasaran Utama

LaLiga Tegas Perangi Pembajakan Digital di Industri Sepak Bola, Media Sosial Jadi Sasaran Utama

Olahraga | inews | Senin, 12 Januari 2026 - 17:42
share

MADRID, iNews.id – Operator kompetisi Liga Spanyol, LaLiga, menegaskan sikap tegas dalam memerangi pembajakan digital yang kian masif melalui media sosial dan platform teknologi. Otoritas sepak bola Spanyol tersebut menyebut pembajakan siaran olahraga sebagai kejahatan terstruktur yang merugikan industri secara sistematis.

LaLiga menilai pembajakan digital tidak bisa dibungkus sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Aktivitas tersebut diposisikan sebagai praktik kriminal terorganisir yang berdampak langsung pada keberlangsungan industri olahraga.

Pandangan LaLiga sejalan dengan pernyataan Tom Leighton, CEO dan co-founder Akamai. Dia menilai pembajakan digital bukan sekadar pelanggaran hak cipta, melainkan ancaman serius terhadap keamanan siber global.

Presiden LaLiga Javier Tebas menyoroti tiga isu krusial dalam pemberantasan pembajakan. Dia menekankan aspek keamanan siber, ketersediaan teknologi penanggulangan, serta persoalan persaingan tidak adil yang jarang disorot publik.

“Pembajakan juga merupakan masalah keamanan siber (malware, penipuan, dan pencurian kredensial). Teknologinya sudah ada untuk bertindak cepat tanpa mengorbankan kinerja maupun proses hukum. Pertanyaannya, apakah Anda merancang infrastruktur untuk mencegah kejahatan atau justru menutup mata,” ujar Javier Tebas lewat unggahan X.

Dalam unggahan tersebut, Javier Tebas turut menyebut akun @elonmusk. Langkah itu menjadi simbol keseriusan LaLiga dalam menekan peran platform digital global terhadap penyebaran konten bajakan.


Pembajakan Ancam Klub, Pekerja, dan Investasi Sepak Bola

LaLiga menilai pembajakan digital mengancam keberlangsungan klub sepak bola, ribuan lapangan kerja, serta investasi jangka panjang pada pengembangan sepak bola usia dini dan pemain muda.

Di Spanyol, lebih dari 35 persen konten LaLiga yang dibajak masih didistribusikan melalui infrastruktur tertentu. Kondisi ini terjadi meski ribuan pemberitahuan resmi dan langkah penegakan hukum berbasis putusan pengadilan telah diterapkan oleh penyedia layanan internet.

LaLiga menegaskan teknologi untuk memberantas pembajakan secara cepat, proporsional, dan sesuai hukum sudah tersedia. Tantangan terbesar justru terletak pada kemauan sebagian perantara teknologi.

Beberapa perusahaan teknologi dinilai berlindung di balik narasi kebebasan internet dan kebebasan berekspresi. Sikap tersebut muncul meski terdapat putusan pengadilan di berbagai negara, termasuk Spanyol, Italia, dan Jepang.

Praktik tersebut menciptakan persaingan tidak adil. Pihak yang patuh hukum menanggung biaya dan kompleksitas penegakan, sementara pihak lain menikmati keuntungan skala besar tanpa akuntabilitas setara.

LaLiga menegaskan perlindungan hak kekayaan intelektual berlandaskan due process, putusan pengadilan, dan supremasi hukum. Penegakan cepat tetap dapat dilakukan melalui mekanisme audit serta peninjauan lanjutan.

Menuntut kepatuhan hukum dari perantara teknologi dinilai bukan bentuk sensor internet. Langkah ini diposisikan sebagai upaya kolektif melawan penipuan audiovisual terorganisir.

“Jika pembajakan dibiarkan memiliki keunggulan bawaan ‘by design’, maka harga yang harus dibayar akan ditanggung oleh kreator, industri, lapangan kerja, dan pada akhirnya oleh konsumen yang taat hukum,” lanjut Javier Tebas di LinkedIn.

Topik Menarik