Fakta Sinkhole Situjuah Terbentuk di Endapan Gunung Api, Ini Penjelasan Badan Geologi
LIMA PULUH KOTA, iNews.id - Badan Geologi mengungkap hasil peninjauan cepat terkait kemunculan sinkhole di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat (Sumbar). Peninjauan dilakukan selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 Januari 2026.
Berdasarkan hasil kajian lapangan dan analisis uji laboratorium, Badan Geologi menyimpulkan fenomena tersebut merupakan pseudokarst atau kars semu. Karena keunikannya, fenomena ini kemudian dinamai Sinkhole Situjuah.
"Sinkhole Situjuah dinilai unik karena terbentuk pada material vulkanis berupa endapan gunung api, bukan pada batu gamping seperti sinkhole pada umumnya. Di lokasi tersebut ditemukan sungai bawah tanah yang membentuk rongga pada material tuf lapili," tulis laporan tersebut dikutip dari laman Badan Geologi, Kamis (22/1/2026).
Mekanisme utama pembentukan sinkhole ini disebabkan oleh erosi buluh atau soil piping. Proses ini mengikis partikel tanah dari bagian dalam secara perlahan hingga membentuk saluran alami di bawah permukaan.
Jembatan Bailey ke-10 di Bireuen Rampung, Hubungkan Dua Gampong yang Terputus Akibat Banjir
Lubang sinkhole terisi air dan menampakkan warna kebiruan. Fenomena tersebut dalam bentang alam kars dikenal sebagai cenote. Hasil uji laboratorium menunjukkan derajat keasaman air berada pada kondisi agak asam hingga netral.
Badan Geologi menjelaskan, faktor utama penyebab terbentuknya Sinkhole Situjuah berasal dari suplai air yang melimpah, baik dari hujan maupun air tanah. Aliran air tanah yang kuat secara perlahan mengikis tanah dari dalam.
Selain itu, faktor stabilitas tanah juga berperan. Jenis tanah berupa abu vulkanik mudah terkikis air, ditambah adanya jalur retakan di dalam tanah yang mempercepat proses erosi internal. Perubahan tekanan rongga di bawah tanah juga membuat lapisan tanah tidak mampu menahan beban di atasnya.
Secara singkat, mekanisme pembentukan sinkhole dimulai dari keberadaan sungai di atas lapili tuf yang kemudian tertutup endapan vulkanik. Seiring waktu geologi, erosi buluh membentuk rongga dan sungai bawah tanah yang semakin membesar hingga akhirnya menyebabkan amblasnya permukaan tanah.
Badan Geologi memperingatkan Sinkhole Situjuah masih berpotensi melebar, terutama ke arah Tenggara–Barat Laut. Jarak aman sementara yang direkomendasikan adalah 17 meter ke arah Barat Daya–Timur Laut dan 30 meter ke arah Tenggara–Barat Laut.
Namun demikian, Badan Geologi menegaskan jarak aman tersebut masih bersifat sementara dan memerlukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat kestabilan secara detail.
Kemunculan sinkhole baru juga masih berpeluang terjadi, meski bersifat setempat dan tidak massal. Lokasi yang lebih rentan berada di sepanjang jalur sungai bawah tanah, terutama di sebagian wilayah Nagari Situjuah Batua dan Nagari Tungka yang berada di sisi Barat Daya sinkhole.
Untuk penanganan, Badan Geologi menawarkan dua opsi. Opsi pertama adalah membiarkan sinkhole tetap terbuka dengan pengaturan radius aman dan sistem drainase agar air tidak kembali meresap ke tanah sekitar.
Opsi kedua adalah mencegah sinkhole agar tidak melebar melalui rekayasa teknis dengan melibatkan ahli teknik sipil, termasuk pengaturan debit air sungai bawah tanah agar tidak mengganggu kestabilan tanah.
Sebagai langkah pengurangan risiko, masyarakat diminta mengenali gejala awal sinkhole, mengurangi resapan air berlebihan, memilih jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, serta memastikan saluran air rumah tidak merembes ke tanah berisiko.
Badan Geologi juga menegaskan bahwa air di Sinkhole Situjuah tidak memiliki khasiat khusus. Warna biru pada air merupakan fenomena alam akibat hamburan cahaya, bukan unsur mistis.
Ke depan, Sinkhole Situjuah dinilai berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi geologi. Namun hal tersebut hanya dapat dilakukan setelah aspek keamanan dipastikan dan pengaturan jarak aman bagi pengunjung diterapkan.









