Ratusan Kasus PMK Muncul di Jabar, Kementan Distribusikan 151.000 Dosis Vaksin
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan sebanyak 151.000 dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk Provinsi Jawa Barat. Hal ini dilakukan sebagai respons atas dinamika kasus PMK yang tercatat dengan total 177 kasus di wilayah itu.
Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Hendra Wibawa menuturkan, kondisi ini menempatkan Jawa Barat sebagai salah satu wilayah prioritas pengendalian, mengingat tingginya populasi ternak serta intensitas lalu lintas ternak antarwilayah.
“Pada Januari, Jawa Barat telah menerima 60.000 dosis vaksin PMK, sedangkan keseluruhan sisanya akan didistribusikan pada pengiriman berikutnya. Selanjutnya, alokasi vaksin untuk kabupaten dan kota di Jawa Barat akan dikoordinasikan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat,” ucap Hendra dalam keterangannya, Minggu (8/2/2026).
Sambut John Herdman, Hokky Caraka: Tolong Bantu Timnas Indonesia Jadi yang Terbaik di Asia
Alokasi ini dibagi ke dalam dua periode, yakni Januari-Maret dan Juli-Agustus dengan masing-masing sebanyak 75.500 dosis. Pada pengiriman Januari, Jawa Barat telah menerima 60.000 dosis vaksin, sementara sisa alokasi akan didistribusikan secara bertahap.
Dia menambahkan, Kementan menargetkan distribusi 4 juta dosis vaksin PMK secara nasional sepanjang tahun 2026. Ini dilakukan sebagai upaya menjaga keberlanjutan sektor peternakan.
Dia mengungkap bahwa dari total tersebut, sebanyak 80 persen dialokasikan untuk zona pemberantasan, 15 persen untuk zona pengendalian, dan 5 persen disiapkan sebagai stok cadangan.
Hendra juga mengingatkan pelaksanaan vaksinasi harus selalu disertai dengan penerapan biosekuriti secara konsisten.
Biosekuriti berperan penting dalam mencegah masuk dan menyebarnya virus melalui manusia, peralatan, kendaraan, maupun lalu lintas ternak.
“Vaksinasi dan biosekuriti merupakan satu kesatuan dalam memutus rantai penularan PMK. Oleh karena itu, upaya vaksinasi harus dibarengi dengan penerapan biosekuriti yang disiplin dan berkelanjutan,” ucapnya.








