In Memoriam Agus Widjojo, Tentara Intelektual Penjaga Demokrasi

In Memoriam Agus Widjojo, Tentara Intelektual Penjaga Demokrasi

Terkini | inews | Senin, 9 Februari 2026 - 13:44
share

Didik J Rachbini
Rektor Universitas Paramadina

SAYA mengenal Jenderal Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika diajak Dipo Alam untuk merancang dan melaksanakan seminar Angkatan Darat kedua di Bandung. Saat itu, saya baru menyelesaikan kuliah doktor dan pemikiran tentang ekonomi politik masih hangat di kepala.

Pertemuan yang berlangsung berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo adalah jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militernya dalam konteks perubahan zaman. Setelah itu, pertemuan kami lebih sering terjadi dalam forum seminar dan juga berkomunikasi lewat media sosial karena tergabung dalam grup WhatsApp yang sama.

Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan lainnya nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo. Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung profesionalisme TNI sekaligus supremasi sipil. Karena memang begitulah sejatinya masyarakat modern.

Agus Widjojo sering disebut “tentara intelektual” atau “perwira intelektual” karena posisinya yang khusus dan uni, yakni elite militer dan perwira tinggi TNI, tetapi sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi. Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil diarahkan untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern, di mana masyarakat madani seimbang dalam trias politika, eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Gagasannya di bidang politik dan militer sangat berpengaruh, terutama pada masa transisi reformasi.

Agus Widjojo adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI. Ia berpandangan, militer yang profesional, kuat, dan memahami peran sejatinya sebagai benteng pertahanan tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan. Keterlibatan militer dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI. 

Bagi Agus, kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan sebagai “penjaga kekuasaan”, melainkan alat negara untuk pertahanan.

Di kalangan perwira senior, banyak sosok dengan pemikiran dan wawasan yang sangat luas dalam bidang sosial politik dan tepat disebut sosok perwira intelektual. Selain Agus Widjojo, kita mengenal almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, SBY, ZA Maulani, dan Jenderal Prabowo sendiri. 

Kita kenal pemikiran SBY dan think tank yang didirikannya, yakni Brighten Institute dan sekarang The Yudhoyono Institute. Sementara Prabowo dan kawan-kawan (Din Syamsuddin, Fadli Zon, dkk.) pernah mendirikan lembaga think tank CPDS (Center for Policy and Development Studies). Namun, di kalangan jenderal dan perwira sekarang, kita sulit mengenali sosok tentara intelektual seperti Agus Widjojo dan kawan-kawan.

Agus Widjojo sendiri termasuk golongan tentara intelektual, yang pemikirannya banyak tertuang melalui lembaga strategi Lemhannas (Lembaga Ketahanan Nasional). Di lembaga ini, fungsi intelektual dan strategisnya terus berjalan, menyebar ke kalangan elite pemerintahan. Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking), yang membentuk cara pandang elite memahami dinamika sistem modern, civil society, geoekonomi, dan geopolitik. Pendek kata, intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, sosok yang belum tentu ada penggantinya.

Topik Menarik