Viral ART di Bandung Aniaya Anak Majikan hingga Berdarah, Aksinya Terekam CCTV

Viral ART di Bandung Aniaya Anak Majikan hingga Berdarah, Aksinya Terekam CCTV

Nasional | inews | Rabu, 18 Februari 2026 - 19:13
share

BANDUNG, iNews.id – Video yang memperlihatkan aksi asisten rumah tangga (ART) menganiaya anak majikan di Kota Bandung, viral di media sosial. Peristiwa itu terekam kamera CCTV di kawasan Sukagalih, Ujung Berung, Kota Bandung.

Aksi tak terpuji ini dilakukan pelaku saat orang tua korban sedang tidak berada di rumah karena bekerja. Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Senin, 16 Februari 2026 lalu. 

Terduga pelaku diketahui merupakan seorang ART berinisial Risma, asal Sumedang. Dalam rekaman kamera pengawas, Risma terlihat melakukan tindakan kekerasan fisik dengan memukul wajah korban. 

Akibat hantaman tersebut, bocah malang itu mengalami luka pada bagian hidung hingga mengeluarkan darah (mimisan). Kejadian ini terungkap setelah sang nenek yang juga berada di rumah mendengar cucunya menangis histeris. Sang nenek kemudian melapor kepada ayah korban melalui telepon. 

"Saya langsung cek rekaman CCTV lewat ponsel. Di situ terlihat jelas pemukulan terjadi. Saya langsung pulang untuk konfirmasi," ujar Fikri, ayah korban, saat ditemui di Bandung. 

Awalnya, pelaku sempat mencoba berkelit dan membantah telah melakukan kekerasan. Namun, Risma tidak dapat mengelak lagi setelah sang majikan memperlihatkan bukti rekaman CCTV yang merekam jelas aksi biadabnya. 

Fikri menambahkan, kejadian ini diduga bukan yang pertama kalinya. Dari perubahan sikap korban yang terlihat trauma, keluarga menduga rentetan kekerasan sudah terjadi sebelumnya, dan kejadian pada 16 Februari tersebut merupakan puncaknya. 

Keluarga Tak Lapor Polisi

Meski merasa sangat terpukul dan marah atas perlakuan pelaku terhadap buah hatinya, keluarga korban memutuskan untuk tidak membawa kasus ini ke jalur hukum.

Pihak keluarga memilih untuk memberhentikan pelaku dari pekerjaannya secara tidak hormat. Ada beberapa pertimbangan kemanusiaan yang mendasari keputusan ayah korban untuk tidak melapor ke polisi.

"Kami memutuskan untuk tidak lapor ke aparat penegak hukum. Pertimbangannya karena pelaku memiliki empat anak yang masih butuh perhatian. Kami rasa sanksi sosial yang ia terima sekarang sudah cukup," ungkap Fikri.

Kini, keluarga fokus pada pemulihan kondisi psikis sang anak yang mengalami trauma mendalam pasca-kejadian tersebut. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua untuk lebih selektif dan waspada dalam memilih pengasuh anak.

Topik Menarik