Terungkap! Khamenei Tolak Pengawalan Khusus saat Terbunuh dalam Serangan AS-Israel
TEHERAN, iNews.id - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada Sabtu (28/2/2026). Khamenei lolos dari upaya pembunuhan saat serangan Israel ke Teheran pada Juni 2025, namun kali ini tidak.
Alasannya, Khamenei tak ingin mendapat pengawalan khusus meski dalam situasi darurat. Bahkan acara-acara yang diikutinya pun bisa diketahui publik. Kondisi tersebut memudahkan tugas para agen intelijen Israel dan AS dalam melacak keberadaannya.
Stasiun televisi Iran Press TV melaporkan, Khamenei mengikuti tradisi pemimpin tertinggi sebelumnya Imam Khomeini. Bahkan Imam Khomeini menerapkan sikap ini saat perang 8 tahun oleh rezim Ba'ath Irak terhadap Iran.
Mereka menerapkan pemahaman bahwa pemimpin revolusi Islam bahwa pemimpin yang menjadi panutan harus menyeleraskan diri dengan penderitaan rakyat.
Oleh karena itu, Khamenei menolak pengawalan berlebihan, bahkan saat serangan Israel tahun lalu.
Meski nyawanya terancam, Khamenei tetap tinggal di Teheran, menjadi sasaran pengeboman dan rudal, di kediamannya di Jamaran.
Ditanya soal Perpanjangan Kontrak di Persija Jakarta, Mauricio Souza: Belum Ada Komunikasi
Sikap tersbeut menyampaikan pesan superioritas kelas dan distribusi risiko yang tidak merata kepada bangsa.
Otoritas Iran mengumumkan tewasnya Khamenei pada Minggu (1/3/2026), sehari setelah serangan besar-besaran AS-Israel ke kompleks perkantorannya di Teheran. Sebelumnya PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump lebih dulu mengumumkan tewasnya sang pemimpin.
Iran memberlakukan masa berkabung nasional selama 40 hari atas meninggalnya Khamenei.










