Iran Gunakan Rudal Balistik Qadr, Gempur Israel dan Pangkalan Militer AS
JAKARTA – Iran telah meluncurkan rudal balistik jarak menengah seri Qadr untuk menggempur Israel dalam perang terbaru antara kedua belah pihak, yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) setelah rezim Zionis, dengan koordinasi bersama Amerika Serikat (AS), melancarkan serangan mendadak ke kota-kota Iran. Hingga Selasa, 3 Maret, konflik telah berkembang ke negara-negara Arab Teluk lainnya, menewaskan lebih dari 550 orang, sebagian besar di Iran.
Rudal keluarga Qadr — secara teknis bagian dari seri Ghadr-110 Iran — adalah sistem balistik jarak menengah dengan jangkauan operasional yang dilaporkan antara 1.800–2.000 kilometer. Sistem ini telah dipamerkan oleh Iran dalam latihan sebelumnya dan dirancang untuk menyerang jauh ke wilayah musuh, dalam konflik ini termasuk Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di negara Arab Teluk, seperti Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
BREAKING NEWS: Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah Lolos Semifinal Piala Asia Futsal 2026!
Rudal Qadr telah digunakan untuk menghantam target-target Israel pada Operasi True Promise 3 Juni tahun lalu, dengan akurasi tinggi. Seri Qadr-H memiliki kemampuan multi-warhead (cluster bom modular), sementara varian F disebut sebagai “Israel Killer” karena memiliki jangkauan 2.000 km yang dapat mencakup seluruh wilayah Israel.
Meski bukan rudal tercanggih Iran, seri Qadr dan Emad merupakan tulang punggung militer Iran dan digunakan secara luas pada Operasi True Promise tahun lalu.
Konflik Meningkat di Seluruh Timur Tengah
AS dan Israel melakukan serangan udara dan rudal besar-besaran serta terkoordinasi terhadap target di dalam Iran, menghantam pangkalan militer dan situs yang terkait dengan kepemimpinan senior di seluruh negeri. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya gabungan kedua negara untuk menurunkan kemampuan strategis Teheran dan melawan apa yang mereka gambarkan sebagai ancaman berkelanjutan, termasuk ambisi nuklir dan dukungan untuk kelompok bersenjata di kawasan tersebut.
Para pejabat di Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas selama serangan tersebut. Beberapa komandan berpangkat tinggi dan pejabat senior juga tewas, menurut pernyataan AS. Iran kemudian mengakui kematian Khamenei, menandai konfrontasi bersejarah dan langsung dengan musuh-musuhnya.
Sebagai tanggapan atas serangan tersebut, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk, termasuk Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Serangan-serangan ini telah menyebabkan korban jiwa baik dari pihak militer maupun sipil.
Konflik telah menyebar melampaui Iran dan Israel. Milisi sekutu seperti Hizbullah di Lebanon menembakkan roket ke Israel, yang memicu aksi militer Israel lebih lanjut di Lebanon. Konflik tampaknya semakin meluas, meningkatkan kekhawatiran akan perang regional yang lebih besar.










