Netanyahu Sebut Mojtaba Khamenei Boneka Garda Revolusi Iran, Tak Berani Muncul ke Publik
JAKARTA, iNews.id - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan sindiran tajam kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Netanyahu menyebut Mojtaba hanya “boneka” dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu, dalam konferensi pers pertamanya sejak perang dengan Iran pecah, Kamis, 12 Maret 2026. Dilansir dari Al Jazeera, Jumat (13/3/2026), dia bahkan menyinggung absennya Mojtaba dari ruang publik sejak perang dimulai. Menurutnya, pemimpin baru Iran itu tidak berani tampil langsung di hadapan publik.
Namun, Netanyahu menolak berspekulasi mengenai kemungkinan serangan terhadap Mojtaba Khamenei, serta pemimpin kelompok Hizbullah, Naim Qassem. Dia hanya mengatakan, tidak akan memberikan jaminan hidup bagi siapa pun.
Mojtaba Khamenei diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan pada awal kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran hampir dua pekan lalu.
Sejak perang dimulai, Mojtaba belum pernah muncul di depan publik. Pernyataannya kepada rakyat Iran bahkan hanya disiarkan melalui televisi pemerintah dan dibacakan oleh penyiar berita. Intelijen Israel menilai Mojtaba kemungkinan mengalami luka dalam serangan udara pada tahap awal konflik.
Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu juga mengakui dirinya tidak dapat memastikan apakah rakyat Iran akan menggulingkan pemerintahan Republik Islam. Menurut dia, Israel dan Amerika Serikat hanya berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran melakukan perubahan politik.
"Kita bisa membawa seseorang ke sumber air, tetapi tidak bisa memaksanya untuk minum," ujar Netanyahu.
Netanyahu mengatakan, Israel terus menghantam struktur keamanan Iran, termasuk pasukan Garda Revolusi dan milisi Basij yang berperan menjaga kekuasaan rezim di dalam negeri. Meski demikian, Netanyahu mengakui pada akhirnya perubahan rezim di Iran hanya dapat terjadi dari dalam.
"Saya tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa rakyat Iran akan menjatuhkan rezim tersebut," katanya.
Netanyahu juga menegaskan, Iran kini telah mengalami pelemahan besar akibat serangan Israel dan Amerika Serikat.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Purbaya Siap Gelontorkan Belanja Rp809 Triliun di Kuartal I-2026
“Iran sekarang bukan lagi Iran yang sama. Negara itu tidak lagi menjadi ancaman seperti sebelumnya," ujarnya.
Menurut Netanyahu, operasi militer yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat bertujuan menghancurkan program senjata nuklir dan rudal balistik Iran. Dia mengeklaim Israel telah menargetkan fasilitas nuklir Iran dan menewaskan seorang ilmuwan nuklir penting dalam serangan tersebut.
"Tujuan kami jelas, mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik yang dapat mengancam Israel, Amerika Serikat, dan dunia," kata Netanyahu.
Dia menambahkan, perang dengan Iran justru membuka peluang bagi Israel untuk membangun aliansi baru di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, sejumlah negara kini bekerja sama dengan Israel untuk menghadapi Iran, sebagian secara terbuka dan sebagian lagi secara diam-diam.
Netanyahu bahkan menyebut timnya sedang menjalin kemitraan baru dengan sejumlah negara kawasan yang hingga beberapa pekan lalu dianggap mustahil terjadi.
"Israel kini lebih kuat dari sebelumnya," kata Netanyahu.
Mojtaba Ancam Balas Dendam
Sementara Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sebelumnya untuk pertama kalinya angkat bicara sejak ditunjuk memimpin Republik Islam Iran di tengah perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Dia menegaskan, Iran dapat menggunakan penutupan Strait of Hormuz sebagai alat tekanan dan memastikan serangan terhadap negara-negara Arab di kawasan Teluk akan terus berlanjut.
Pernyataan tersebut disampaikan Mojtaba melalui televisi pemerintah Iran, Kamis (12/3/2026). Pesan Khamenei dibacakan oleh seorang penyiar berita. Dia sendiri tidak tampil di layar.
Khamenei dalam pesannya bersumpah akan membalas dendam setiap korban jiwa dalam perang tersebut, termasuk mereka yang tewas akibat serangan terhadap sebuah sekolah. Dia menegaskan, Iran akan menuntut kompensasi dari musuhnya, yang merujuk pada Amerika Serikat.
"Jika mereka menolak, kami akan mengambil dari aset mereka atau menghancurkannya dalam jumlah yang sama," kata Khamenei, dilansir dari AP.










