Kepala Bappisus Bongkar Alasan Prabowo Bawa RI Gabung BoP: Tanpa Bargaining Power, Kita Tak akan Didengar
JAKARTA, iNews.id - Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigas Khusus (Bappisus) Aris Marsudiyanto mengungkap alasan di balik langkah Presiden Prabowo Subianto membawa Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP). Keputusan tersebut merupakan strategi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Aris dalam Dialog Spesial Kepala Bappisus: Perang Iran, Kondisi Indonesia hingga Teror Aktivis bersama Pemimpin Redaksi iNews Aiman Witjaksono, mengatakan, pendekatan Indonesia selama puluhan tahun yang konsisten membela Palestina belum menghasilkan dampak konkret di level global.
"Kita sudah berapa puluh tahun membela Palestina? Setiap ada agresi, invasi, kita selalu mengutuk, mengutuk, melanggar resolusi. Tetapi sampai sekarang enggak pernah ada guna," kata Aris.
Menurut dia, berbagai resolusi internasional kerap tidak efektif karena terbentur kepentingan negara besar, termasuk veto yang berulang kali terjadi. Akibatnya, situasi di Gaza tidak banyak berubah, bahkan semakin memburuk.
"Sekarang Gaza dalam keadaan hancur lebur, 80 persen," ujarnya.
RI-AS Sepakati Kerja Sama Pengembangan Semikonduktor, Target Ciptakan 5 Ribu Lapangan Kerja
Secara teknis, kata Aris, posisi Palestina juga semakin terjepit. Dia mencontohkan, jika Israel memperketat kontrol wilayah, ruang gerak Palestina pun akan semakin terbatas.
"Kalau Israel pasang border saja ke seluruh Gaza, mau apa? Siapa yang berani melawan juga?" ucapnya.
Dalam situasi itu, Aris menjelaskan Prabowo memilih pendekatan berbeda dengan membangun komunikasi luas dengan berbagai kekuatan dunia. Prabowo menjalin hubungan baik dengan sejumlah pemimpin dunia, mulai dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, hingga negara-negara di Timur Tengah.
"Beliau baik dengan Trump, dengan pemimpin negara-negara di Timur Tengah, dengan Xi Jinping, dengan Putin. Semua berkawan. Kemudian Trump mengumpulkan, mendengar suara kita. Jadi, ada satu titik cerah, masuk di situ," kata Aris.
Dia menekankan, tanpa posisi tawar yang kuat, Indonesia tidak akan memiliki pengaruh dalam percaturan global, termasuk dalam isu memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Kita kalau tidak punya bargaining power, kita tidak akan didengar," ujarnya.
Aris juga membantah anggapan langkah bergabung dalam BoP menunjukkan Indonesia condong ke Amerika Serikat. Dia menilai narasi tersebut sebagai bentuk pemelintiran terhadap kebijakan pemerintah.
"Dipelintir seakan-akan kita pro Amerika. Tidak ada. Tujuan Pak Prabowo dari awal hanya satu, bagaimana mencari kesempatan terbaik untuk membantu Palestina merdeka," ujarnya.
Sebaliknya, dia menyebut langkah tersebut justru membuka peluang kontribusi nyata Indonesia dalam upaya perdamaian dunia. Salah satunya melalui rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian dalam jumlah besar.
"Kita tidak ada pelucutan senjata. Kita justru akan mengirim peacekeeping force, pasukan perdamaian dunia beserta negara-negara lain, sekitar 32.000 personel, terdiri dari 20.000 tentara dan 12.000 polisi yang akan menjaga keamanan kedua belah pihak," kata Aris.
"Ini kan suatu kesempatan besar, terobosan yang konkret," ujarnya.
Aris menegaskan, Indonesia tetap memegang penuh kedaulatannya dalam setiap kerja sama internasional. Jika dinilai tidak sesuai dengan kepentingan nasional, Indonesia dapat menarik diri dari kesepakatan.
"Andaikata kita mau diperalat, keluar dari 20 kesepakatan itu, Indonesia juga bisa menarik diri. Kita tidak terikat. Kita punya kedaulatan," katanya.
Terkait kemungkinan tekanan dari negara besar jika harus keluar dari BoP, dia menyebut hal tersebut sebagai konsekuensi yang harus diperhitungkan secara matang. Namun, menurutnya, langkah strategis tetap harus diambil dengan kalkulasi yang tepat.
"Itu konsekuensi. Tapi semua harus dikalkulasi. Kita juga harus bicara dengan negara-negara Timur Tengah," ujarnya.
Kepala Bappisus mengingatkan, perjuangan untuk Palestina tidak bisa dilakukan secara sepihak atau emosional tanpa strategi global yang terukur.
"Kita tidak boleh egosentris. Kita kan all out membela Palestina. Tapi jangan sampai salah langkah. Kalau sampai salah langkah, bukan manfaat yang kita dapat, tapi malah mudarat," katanya.
Aris mengajak masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam memperjuangkan Palestina melalui jalur diplomasi yang lebih aktif, termasuk BoP.
"Rakyat Indonesia harus men-support secara moril," ujar Aris.










