Ratusan Rudal Iran Bombardir Israel, Kilang Minyak dan Fasilitas Nuklir Hancur
TEHERAN, iNews.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak yang semakin mengerikan. Iran meluncurkan gelombang ke-76 operasi militer bertajuk True Promise 4 dengan menghujani fasilitas militer Amerika Serikat dan Israel menggunakan ratusan rudal berat berpemandu jenis Kheibar Shekan dan Qiam, Selasa (24/3/2026).
Serangan masif ini menyasar pangkalan udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab serta sejumlah kota besar di wilayah pendudukan Israel seperti Tel Aviv, Ashkelon, Haifa, hingga Dimona.
Rekaman yang dirilis Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperlihatkan detik-detik peluncuran rudal yang telah ditulisi pesan khusus sebelum melesat menuju Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab. Tidak hanya itu, pada gelombang sebelumnya, pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi juga menjadi sasaran empuk rudal balistik Teheran.
IRGC menegaskan operasi ini merupakan bentuk tekanan terus-menerus terhadap pasukan koalisi serta penghormatan kepada tokoh militer Ali Muhammad Naini dan Ismail Qaani.
Dampak serangan ini dilaporkan melumpuhkan sektor vital Israel. Kilang minyak Bazan di Haifa, yang merupakan kilang minyak terbesar dan pemasok 60 persen kebutuhan BBM Israel, meledak hebat dan memicu kobaran api raksasa.
Selain itu, serangan rudal juga menghantam kawasan kontainer di Pelabuhan Haifa hingga menghancurkan sedikitnya 15 kontainer pengiriman. Petugas pemadam kebakaran memperkirakan upaya pemadaman akan memakan waktu hingga dua hari.
Ketegangan memuncak saat rudal Iran menghantam sejumlah bangunan di Dimona, Israel Selatan, yang merupakan lokasi fasilitas nuklir sensitif milik Israel. Sedikitnya 70 orang terluka dalam serangan tersebut, sementara bangunan dan kendaraan di sekitar lokasi hancur berantakan.
Televisi pemerintah Iran menyebut serangan ke Dimona merupakan balasan atas sabotase musuh terhadap fasilitas nuklir Natanz beberapa waktu lalu.
Di tengah hujan rudal, kondisi domestik Israel ikut bergejolak. Ribuan warga di Tel Aviv turun ke jalan menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera mundur dan diadili atas kejahatan kemanusiaan.
Massa menganggap kebijakan perang Netanyahu hanya membawa warga Israel ke dalam bahaya dan kehancuran ekonomi. Unjuk rasa juga diwarnai aksi teatrikal simbol pertumpahan darah sebagai kritik atas kegagalan pemerintah dalam menangani krisis sandera dan keamanan.










