Teurungkap, Trump Ingin Cepat-Cepat Gencatan Senjata dengan Iran sejak 21 Maret

Teurungkap, Trump Ingin Cepat-Cepat Gencatan Senjata dengan Iran sejak 21 Maret

Global | inews | Jum'at, 10 April 2026 - 07:12
share

LONDON, iNews.id - Ada inisiatif senyap di balik tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (7/4/2026) malam secara mengejutkan, mengumumkan gencatan senjata selama 2 minggu dengan Iran.

Pengumuman itu disampaikan 1 jam sebelum habisnya batas waktu AS untuk menyerang infrastruktur energi dan sipil Iran karena enggan membuka Selat Hormuz.

Spekulasi yang beredar saat itu, Trump hanya menunda serangan infrastruktur Iran, bukan mengumumkan gencatan senjata yang berarti menghentikan serangan secara total selama 2 minggu.

Surat kabar Inggris, The Financial Times (FT), mengutip keterangan beberapa sumber pejabat AS, melaporkan gencatan senjata selama 2 minggu sebagian besar didorong oleh inisiatif Washington. Pemerintahan Trump secara diam-diam bekerja di balik layar selama beberapa pekan untuk menghentikan perang, meski Trump terus mengeluarkan ancaman akan menghancurkan peradaban Iran.

Disebutkan, Trump sebenarnya menginginkan gencatan senjata sejak 21 Maret, saat pertama kali mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran di tengah kekhawatiran atas lonjakan harga minyak dunia.

Sumber pejabat mengatakan, AS terkejut dengan daya tahan Iran di bawah serangan bertubi-tubi.

Sementara itu Gedung Putih memilih Pakistan sebagai mediator, bukan Turki. Pertimbangannya, negara tetangga Iran itu bersikap netral serta lebih mungkin diterima oleh Teheran.

Kesepakatan gencatan senjata secara efektif meminta Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas penghentian serangan.

Laporan tersebut sangat kontras dengan sikap Trump yang disampaikan ke publik serta pejabat senior AS lainnya. Mereka mengklaim Iran memohon gencatan senjata yang kemudian menyebutnya sebagai kemenangan perang tanpa syarat.

AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari, memaksa Iran membalasnya dengan menggempur negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Topik Menarik