Komisi I DPR Tepis Isu Pesawat Militer AS Bebas Terbang di RI: Menhan Bilang Tak Ada

Komisi I DPR Tepis Isu Pesawat Militer AS Bebas Terbang di RI: Menhan Bilang Tak Ada

Terkini | inews | Selasa, 21 April 2026 - 17:39
share

JAKARTA, iNews.id - Ketua Komisi I DPR Utut Adianto membantah isu pesawat militer Amerika Serikat (AS) diizinkan bebas terbang di wilayah udara Indonesia. Dia mengaku telah mengonfirmasi isu itu kepada Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin.

Menurut dia, Sjafrie memastikan tidak ada perjanjian yang disepakati terkait isu tersebut.

“Kita disudutkan oleh pemberitaan ada blanket untuk di udara kita, overflight. Ini kan harus kita cek apa yang ditandatangani oleh Pak Menhan, Pak Sjafrie Sjamsoeddin. Saya coba WhatsApp, beliau mungkin dalam perjalanan pesawat, tetapi begitu mendarat beliau jelaskan tidak ada itu,” kata Utut dalam konferensi pers di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Legislator PDIP itu menegaskan kedaulatan udara Indonesia tetap menjadi prinsip utama dalam setiap kerja sama pertahanan yang dilakukan pemerintah. 

Utut juga memastikan, tidak ada bagian dari kesepakatan yang menyerahkan kedaulatan wilayah udara Indonesia kepada pihak lain.

“Jadi tidak ada di sini yang sifatnya bahwa kedaulatan kita sudah diberikan kepada United States, utamanya di udara kita,” ujarnya.

Menurut Utut, setiap aktivitas di wilayah udara Indonesia tetap harus melalui mekanisme yang berlaku, termasuk pemberitahuan kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI Angkatan Udara.

“Artinya buat kita, tetap harus ada notice kepada Kemhan dan AURI kita,” tuturnya.

Lebih lanjut, Utut menyampaikan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan AS yang disepakati dalam kerangka Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) bukan merupakan aliansi militer.

Dia menjelaskan, kerja sama tersebut lebih menitikberatkan pada penguatan kapasitas pertahanan Indonesia, termasuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan transfer teknologi.

“Ini kalau ini data dari beliau, pendidikan militer profesional jadi akan ada perluasan akses program IMET, International Military Education and Training, dan juga nanti interoperabilitas operasional, jadi peningkatan kompleksitas latihan rutin antara lain sebesar Super Garuda Shield,” ungkapnya.

“Dari itu semua kita akan memperoleh peace through strength. Jadi kekuatan yang kita makin kuat tetapi untuk tujuan damai,” kata dia melanjutkan.

Topik Menarik