Kisah Inspiratif Anak Sopir Angkot Lulus Kuliah di ITB, Tak Menyerah Raih Mimpi

Kisah Inspiratif Anak Sopir Angkot Lulus Kuliah di ITB, Tak Menyerah Raih Mimpi

Terkini | inews | Rabu, 22 April 2026 - 04:00
share

JAKARTA, iNews.id - Lahir dari keluarga sederhana tak menghalangi langkah Albert Lukas Pithel Hasugian. Anak sopir angkot ini justru berhasil menembus salah satu kampus terbaik di Indonesia dan lulus dengan kebanggaan.

Dalam sidang terbuka wisuda kedua tahun akademik 2025/2026 Institut Teknologi Bandung (ITB), Albert membagikan kisahnya dalam meraih mimpi. Ia merupakan lulusan dari Program Studi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen.

Albert mengaku telah bercita-cita lama menempuh pendidikan di ITB. Namun, orang tuanya hanyalah seorang sopir angkot di Medan.

"Mimpi kuliah di ITB dulu terasa sangat jauh," ucap dia dalam sambutannya dikutip iNews.id, Rabu (21/4/2026).

Meski begitu, ia tak mengubur mimpinya begitu saja. Lingkungan sekitar mendorongnya untuk terus maju mewujudkan mimpinya.

"Namun atas dorongan orang tua dan keyakinan terhadap pentingnya pendidikan, serta dukungan beasiswa KIP-K, dosen, mentor, dan teman-teman saya mampu terus melangkah hingga menuntaskan studi," sambung dia.

Orang tua Albert selalu meyakinkan bahwa di tengah keterbatasan, mereka akan selalu berusaha. Terlebih dengan memegang filosofi “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au” yang artinya bahwa anak merupakan kekayaan atau harta yang berharga.

Kelulusannya saat ini, kata Albert, menjadi contoh bahwa setiap orang bisa mewujudkan cita-cita mereka.

"Perjalanan di ITB mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki segalanya untuk memulai, cukup memiliki alasan untuk tidak berhenti," kata Albert.

Tak cuma itu, Zulfi Akbar Harahap dari Program Studi Sarjana Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan juga berhasil lulus walau dalam keterbatasan.

Zulfi menceritakan almarhum ayahnya adalah seorang kuli bangunan, sementara ibunya ibu rumah tangga. Harapan sederhana sang ayah agar anak-anaknya dapat menjadi sarjana menjadi bahan bakar bagi Zulfi untuk terus berjuang.

"Melalui beasiswa dari CT Arsa Foundation, kerja keras, dan kegigihan, saya menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung," tuturnya.

Di tengah tantangan itu, ia memilih untuk menjadi pribadi yang gigih, disiplin, dan tahan banting. Pada akhirnya, ia berhasil lulus, dan diterima di perusahaan multinasional, sembari membawa harapan untuk membantu keluarga dan meneruskan cita-cita ayahnya.

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyatakan bahwa hari wisuda bukan hanya milik para lulusan, tetapi juga milik para orang tua, keluarga, sahabat, dosen, dan tenaga kependidikan yang telah membersamai perjalanan mereka.

"Bahwa di balik setiap toga ada cinta, doa, dan pengorbanan banyak orang. Selain itu, ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi alat untuk membangun masa depan bangsa dan memberi manfaat bagi orang lain," ujar Tatacipta.

"Kemajuan bangsa tidak lahir dari orang-orang yang hanya cemerlang secara pribadi, melainkan dari mereka yang mampu berkolaborasi dan menggunakan ilmunya bagi masyarakat," kata Tatacipta.

Topik Menarik